Wednesday, 30 September 2015

Budaya Antri



Suatu ketika saya mengurus Lesen “sim” mobil di Pejabat (kantor) JPJ (Jabatan Pengangkutan Jalan) Putera Jaya di Malaysia. Setiba di tempat itu, saya melihat ada beberapa orang sedang duduk-duduk di sofa, setelah giliran orang Arab di depan saya selesai berurusan, saya masuk dan duduk di depan petugas kounter. Sang petugas mempersilakan saya, tiba-tiba dari arah belakang ada orang dengan suara agak nyaring dan setengah berteriak mengucapkan kata-kata “dia tidak ikut queue, dia tidak beratur”, saya tidak tahu ternyata yang lagi santai duduk-duduk di sofa adalah orang sedang antri menanti giliran, saya pun mohon maaf sambil berucap “maaf saya tak tahu ada queue, fasal tak ada nombor pun” saya pun berundur dengan serta merta.
Secara peribadi saya agak kesal karena ia meninggikan suara, tapi secara budaya saya memang bersalah dan dapat memahami situasi tersebut, karena orang sangat menghargai budaya antri dan akan sangat marah kalau ada yang memotong giliran antriannya. Hal ini bisa dilihat di mana-mana. Dalam urusan menaiki bus, orang rela berdiri panjang dan lama hanya sekedar untuk naik bus secara tertib, hal ini juga berlaku dalam pembelian tiket, naik taksi, kadang barisannya sudah mengular saking panjangnya. Kalau untuk pelayanan kantoran hampir semua sudah menggunakan nomor antrian elektronik, maka jangan cuba-cuba untuk memotong barisan, alamat dilihat sinis atau diteriakin!
Pengalaman kedua saya adalah saat menunggu bus di bandara LCCT Kuala Lumpur mahu menuju KL-Sentral pada 23 Agustus 2013 setiba dari Aceh, jam hampir menunjukkan jam 6 sore, bus yang akan berangkat tidak ada, antrian panjang mengular terlihat begitu jelas, “yang tidak berbaris jangan harap dapat naik Bus”, sergah salah satu petugas shuttle bus. Benar saja, yang bisa naik bus hanya yang telah mengantri, dan begitu bus penuh, barisan di stop untuk menunggu bus berikutnya. Selain manusia, bagasi bawaan juga ikut di antrikan untuk dimasukkan ke dalam bus. Karena terlalu capek tidak sempat istirahat dari pagi, dalam bus pun kami tertidur pulas.
Ternyata, nasib kami belum berakhir di situ, sesampai di KL-Sentral, kami kembali mengantri untuk beli tiket taxi dan pulang ke rumah, di kaunter tiket taxi, antrian tidak panjang, namun pas mahu naik taxi, subhanallah, antrian panjang mengular kembali harus kami lalui, lebih kurang 45 menit saya berdiri dan akhirnya giliran naik taxi tiba juga, alhamdulillah, pas azan isyak sampai juga kami di rumah. Alhamdulillah ternyata dalam untuk tertib itu perlu pengorbanan dan saling pengertian!

 

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 11:43 Kategori:

No comments: