Friday, 20 June 2014

Datang Sebagai Migran, Pulang ditelan Lautan



Ironi dan sungguh menggugah perasaan. Belum lagi semua korban Tongkang tenggelam pembawa pendatang yang karam di Sungai Air Hitam Pulau Carey, Kuala Langat, Pelabuhan Kelang ditemukan, satu lagi boat pancung membawa pendatang karam di perairan Sepang tanggal 19 Jun 2014.

Sama dengan boat yang tenggelam di Pulau Carey, tujuannya adalah ke Tanjung Balai dan sama-sama membawa pulang "pendatang asing" untuk pulang ke Indonesia, tentu juga secara gelap. Dugaan sementara kedua-dua boat itu tenggelam karena kelebihan muatan. Menurut ketua pengarah Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) sebagai mana di kutip oleh harian Utusan Malaysia, boat yang karam di perairan Sepang, muatan yang sepatutnya adalah 10 orang akan tetapi diisi sebanyak 27 orang. 

Karamnya dua boat yang membawa "penumpang gelap" ini sepatutnya memberi pelajaran sangat berharga bagi semua pihak. Kejadian ini selayaknya membuka mata semua pihak, ternyata ada jalan yang tidak jamak diketahui orang untuk menerobos batas-batas kedaulatan negara yang dilakukan oleh orang-orang yang berkeinginan kuat untuk mengadu dan memperbaiki nasib di luar batas negara yang ia tempati.

Puasa di negeri sendiri lebih enak dari emas di negeri orang.
Para korban yang terlibat dalam boat karam ini kebanyakannya adalah orang-orang yang bekerja secara tidak resmi dan berat dugaan kebanyakannya adalah yang telah berakhir masa berlaku izin tinggal yang sah di Malaysia. Niat ikhlas mereka untuk pulang dan berjumpa keluarga serta kerinduan melaksanakan ibadah puasa di tengah keluarga di negeri sendiri ternyata harus melalui jalan berliku bahkan mengenaskan.  

Hal ini memberi pelajaran bahawa seberat apa pun godaan material, kepuasan batin seseorang tetap ketika ia berada di tengah keluarganya yang tercinta. Kebahagiaan sememangnya tidak dapat dihargai dengan materi, sehingga mereka sanggup berkorban uang untuk mengharungi ganasnya Selat Melaka melewati jalan tikus dan pelabuhan gelap. 

Peristiwa ini membuktikan bahwa para pekerja adalah terpaksa berada di negara orang untuk memperbaiki nasib. Seandainya mereka dapat memperbaiki nasib di negara sendiri tidak akan meninggalkan kebahagian kumpul bersama dengan keluarga dan bersusah payah ke negara orang.

Ketidak mampuan pemerintah memberi kesejahteraan
Ramainya warga yang mengadu nasib di negera orang sekali lagi menunjukkan rapor merah pemerintah dalam menyediakan peluang pekerjaan untuk menjamin kehidupan yang layak bagi rakyatnya, ini adalah pelajaran lain yang dapat dipetik dari musibah ini. 

Editorial Serambi Indonesia dengan judul “Cerita Ironi Negeri Bergelimang Rupiah” adalah sebuah gambaran kasat mata tentang bagaimana wang yang banyak belum tentu dapat memberi peluang pekerjaan yang dapat mensejahterakan ramai masyarakat. Penikmat dari gelimangan wang yang ada hanya segelintir manusia, sedangkan sebahagian yang lain harus meregang nyawa dan menggadai maruah untuk mengais asa bagi kehidupan yang lebih menjanjikan.

Tanpa disadari ternyata kenikmatan yang dinikmati oleh segelintir orang telah membuat orang lain sengsara. Kenikmatan yang tengah dinikmati oleh sebahagian manusia di negeri yang kaya ini telah membawa malapetaka bagi saudaranya. Kenikmatan yang mereka nikmati secara tidak disadari telah merenggut nyana orang-orang yang tidak berdaya untuk mendapat dan menikmati anugerah tuhan yang di serobot oleh manusia-manusia egois. 

Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berfikir. Takziah kepada keluarga yang terkorban dalam peristiwa boat karam semoga Allah mudahkan segala urusan dan berikan hidayah kepada kita semua.

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 12:41 Kategori:

No comments: