Saturday, 31 May 2014

Pilihan Raya Kecil



Pemilu (Pemilihan Umum) yang dikenal di Indonesia, di Malaysia disebut dengan Pilihan Raya. Yang uniknya, di Malaysia, Pilihan Raya ada yang besar ada yang kecil.

Secara umumnya, sama seperti di Indonesia, Pilihan Raya diadakan untuk memilih wakil rakyat yang akan duduk di  Parlimen (DPR Pusat) yang terletak di ibu negara Kuala Lumpur mahupun untuk memilih wakil rakyat di peringkat negeri, seperti Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di tempat kita. Di sini di sebut dengan Dewan Undangan Negeri disingkat dengan DUN.

Pemenang dalam pilihan raya akan menjadi pemimpin, baik di daerah mahupun tingkat nasional. Untuk level Daerah (Negeri) pemimpin disebut dengan Menteri Besar (Gubernur) dan untuk pusat adalah Perdana Menteri, biasanya adalah ketua partai. Misalnya kursi parlemen yang diperebutkan sebanyak 128, maka parti atau koalisi partai yang mendapat kursi melebihi 50% dari jumlah kursi yang disediakan akan memimpin.  Uniknya, walaupun dia ketua partai, apabila kalah di kawasan yang ia ikut bertanding, maka ia tidak bisa menjabat jabatan rasmi dalam pemerintahan. Misalnya ketua partai A kalah dalam pemilu di kawasan B, maka ia tidak bisa menjadi perdana menteri, demikian juga untuk peringkat daerah, dengan kata lain yang boleh menjabat adalah orang yang memang menang dalam Pemilu di dapilnya masing-masing. Maka, jangan mimpi mendapat jabatan kalau kalah dalam pilihan raya.

Di Malaysia ada dua koalisi besar, pertama adalah Barisan Nasional yang di pimpin oleh UMNO (united Malay Nation Organization) dan parti komponennya, dan satu lagi adalah Pakatan rakyat atau disebut dengan pembangkang (oposisi) yang di dalamnya ada Parti Islam Se-Malaysia, Parti Keadilan Rakyat yang dipimpin oleh Anwar Ibrahim dan lain-lain.

Yang menarik apabila kemenangan yang diperolehi tidak mencapai mayoriti besar, seperti yang berlaku di Terengganu baru-baru ini, di mana Barisan Nasional hanya memenangi 17 kursi dan parti pembangkang memperoleh 15 kursi. Ketika terjadi kemelut politik di negeri Terengganu akibat pergantian Menteri Besar (Gubernur) oleh Perdana Menteri. Menteri Besar yang diganti tidak berpuas hati dan dia mengumumkan keluar dari Barisan Nasional dan menjadi calon bebas (non partisan). Sikapnya juga diikuti oleh tiga loyalisnya, dengan demikian, Barisan Nasional kehilangan 3 kursi dari 17 menjadi 14 ditambah 1 kursi speaker DUN, sementara parti pembangkang menguasai 15 kursi. Nyaris saja Barisan Nasional hampir hilang kekuasaan di Terengganu, namun, mantan menteri besar dan loyalisnya ternyata kembali lagi kepangkuan Barisan Nasional dalam waktu tiga hari. 

Di Malaysia juga tidak dikenal istilah Pengganti Antar Waktu (PAW). Bila ada wakil rakyat yang mengundurkan diri ataupun berhalangan tetap (meninggal), maka akan dilakukan pilihan raya di kawasan (dapil) di mana wakil rakyat tersebut bertanding untuk mencari pengganti. Pemilu dalam dapil tertentu ini dinamakan dengan Pilihan Raya Kecil (PRK).

Pilihan raya kecil terbaru adalah yang diadakan di kawasan parlimen (dapil) Bukit Gelugur, Pulau Pinang untuk mencari ganti mendiang Karpal Singh, seorang ahli parlimen yang sekaligus pengacara kawakan Malaysia yang meninggal dalam sebuah kecelakaan jalan raya dua bulan yang lalu. Pilhan raya ini dimenangkan oleh anaknya sendiri, Ramkarpal Singh secara telak. Pilihan Raya Kecil paling kini dan lebih hangat berlaku di kawasan Teluk Intan di Negeri Perak, di mana parti China mengusung calon Melayu.

Lain lubuk lain ikannya, lain negara lain sistemnya, yang jelas yang duduk di parlimen adalah wakil rakyat walaupun caranya berbeda.

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 14:42 Kategori:

2 comments:

Anonymous said...

tahniah sahabat.. pemahaman kamu akan kondisi p/r di Malaysia adalah tepat. bila lagi mau mengeteh.. heheh..

suhaily said...

Tq 4 comment, bila-bila masa boleh :)