Sunday, 25 May 2014

Kota Fir'aun



Dalam kehidupan sehari-hari, terlalu vulgar disuguhkan dengan pemandangan konsumtif yang cenderung kepada hedonis. Setiap orang bangga apabila mampu untuk mengejar apa saja yang tengah menjadi trend model. Handphone misalnya, baru saja berita muncul di media bahawa brand tertentu akan keluar, manusia pun sibuk mempersiapkan tenaga, pikiran dan finansial untuk menjadi orang pertama mendapatkan brand baru tersebut. Bahkan ada yang sanggup antri dari tengah malam buta menunggu toko di buka, seakan dunia akan kiamat kalau tidak bisa mendapatkannya. Padahal gadget lama masih sangat layak lagi di pakai. Rumah juga demikian, ketika ada model baru muncul, sibuk manusia ingin merenovasi rumah yang ada, supaya tidak dikatakan ketinggalan model. Mobil apalagi, dari mobil mewah sampai mobil murah, setiap ada model baru yang keluar, manusia mengekor antri untuk mendapatkannya. Tidak penting apakah itu dengan kredit, jual yang lama ataupun dengan menggasak kiri kanan sehingga pendapatan mencukupi untuk mengejar “bayang-bayang” kenikmatan.

Dalam mengejar kenikmatan, tidak jarang manusia terperosok dalam lembah hutang dan pinjaman yang tidak terbayarkan, belum satu hutang selesai, hutang baru sudah mulai dibuat atau ditawarkan kepadanya, seakan-akan lupa bahawa hutang merupakan salah satu penghambat manusia masuk kubur setelah ia di shalatkan.

Ketika membaca Ihya ulumiddin, salah satu karya agung imam al-Ghazali, saya terhenti pada sebuah cerita kisah perjalanan seorang alim yang bernama Hatim al-Asham.
Dalam satu kunjungannya ke Madinah, orang-orang Madinah mengerubungi Hatim, Hatimpun bertanya: “kota apakah ini?”. Orang-orang menjawab: “kota (Madinah) Rasulullah s.a.w”.
Hatim melanjutkan pertanyaannya: “Dimanakah istana Rasulullah s.a.w? saya hendak mengerjakan shalat di dalamnya”. “Rasulullah tidak mempunyai istana”, orang-orang memberikan jawaban. “Hanya mempunyai sebuah rumah yang rendah di atas tanah”.
“Mana istana sahabat-sahabatnya?”, lanjut Hatim bertanya. “Tidak ada juga! Mereka hanya mempunyai rumah-rumah yang rendah di atas tanah”, jawab penduduk Madinah. “Kalau begitu” kata Hatim: “Hai kaumku! Ini adalah kota Firaun!”.

Hatimpun di bawa oleh penduduk dan diadukan ke pada sultan, mereka berkata: “Orang ‘ajam (asing) ini mengatakan: “ini kota firaun! kepada negeri kita”. Sultan bertanya: “Mengapa begitu?”
Hatim menjawab: “Janganlah lekas marah kepadaku! Aku ini orang bodoh yang asing di sini. Saya masuk negeri ini seraya bertanya: Kota siapakah ini?, mereka menjawab: “Kota (Madinah) Rasulullah s.a.w”, lalu saya bertanya: Dimanakah istananya?”, dan Hatim meneruskan ceritanya, kemudian ia berkata, “Allah telah berfirman: Sesungguhnya Rasulullah itu menjadi ikutan (teladan) yang baik untuk kamu (al-Ahzab [33]: 21), maka tuan-tuan, siapakah yang tuan-tuan ikut?, Rasulullah s.a.w atau Firaun yang pertama-tama membangun bangunan menggunakan marmer dan batu merah?”  

Sungguh cerita ini bagaikan hentakan palu yang menyentak alam bawah sadar, bahawa kita yang selalu sesumbar sebagai pengikut Nabi, sebahagian perangai kita belum lagi mengikuti sang junjungan, terutama dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan-jangan kita juga termasuk dalam kategori Firaun menurut Hatim bin Asham!

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 11:06 Kategori:

No comments: