Friday, 16 May 2014

Isi Semua Kitab Tuhan



Imam al-Ghazali dalam karya monumentalnya “Ihya’ Ulumiddin” menceritakan sebuah dialog yang sangat sarat dengan nilai-nilai keimanan dan masih sangat layak dijadikan sebagai cermin untuk melihat gambaran manusia yang hidup berabad-abad setelah beliau wafat. Sebuah dialog yang terjadi antara seorang guru yang bernama Syaqiq al-Balkhi dengan muridnya yang bernama Hatim al-Asham.
Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim al-Asham: “wahai Asham, sejak bila kamu bersamaku? Hatim menjawab: “sudah tiga puluh tahun”, Sang guru bertanya lagi: “selama itu apa saja yang engkau pelajari dariku?”. Hatim dengan penuh keyakinan menjawab: “lapan masalah”.
Syaqiq al-Balkhi bukan kepalang terperanjat mendengar jawaban muridnya, lalu ia mengucap: “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiun”, terbuang saja umurku bersamamu, dan engkau hanya mempelajari 8 masalah saja dariku selama 30 tahun!?”.
Hatim menyela: “wahai guruku! Aku tidak mempelajari yang lain dan aku tidak ingin berdusta”, jawabnya dengan jujur.
Dengan penasaran, Syaqiq berucap: “terangkanlah 8 masalah itu supaya aku dengar”!.
Hatimpun berucap: “Aku memandang kepada makhluk ini, maka aku melihat masing-masing mereka memiliki kekasih dan ingin bersama kekasihnya sampai ke kubur. Maka apabila telah sampai ke kubur, niscaya ia berpisah dengan kekasihnya itu”. Maka aku mengambil perbuatan baik menjadi kekasihku, maka apabila aku masuk kubur, maka kekasihku akan ikut bersamaku”.
Sang guru berucap: “Betul sekali wahai Hatim, ceritakan yang kedua!”.
Hatim pun menjawab: aku perhatikan firman Allah: “Dan adapun orang yang takut di hadapan kebesaran tuhannya dan menahan jiwanya dari keinginan yang rendah (hawa nafsu), maka sesungguhnya taman (syurga) tempat kediamannya” (al-Naziat [79]: 40-41).
Maka yakinlah aku bahwa firman Allah itu benar adanya, lalu aku perjuangkan diriku menolak hawa nafsu itu, sehingga tetaplah aku taat kepada Allah.
Ketiga yang aku pelajari darimu wahai guru: “aku memandang kepada manusia dan aku melihat, tiap-tiap orang yang ada padanya sesuatu benda, ia menghargai, menilai dan memelihara benda itu. Kemudian aku perhatikan firman Allah: “Apa yang di sisi kamu itu akan hilang tetapi apa yang ada di sisi Allah itulah yang kekal”. (al-Nahl [16]: 96).
“Maka setiap kali jatuh ke dalam tanganku sesuatu yang berharga dan bernilai, aku hadapkan dia kepada Allah, semoga kekal ia terpelihara di sisi-Nya”
Ke empat: “aku memandang kepada makhluk ini, maka aku melihat masing-masing mereka kembali kepada harta, kebangsawanan, kemuliaan dan keturunan. Aku memandang kepada semua itu, tiba-tiba tampaknya tidak ada apa-apa, kemudian aku perhatikan firman Allah: “yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kamu”. (al-Hujurat [49]: 13). Maka aku pun bertaqwa, mudah-mudahan aku bisa menjadi orang mulia di sisi Allah.
Kelima: “Aku memandang kepada makhluk ini, aku melihat mereka saling tusuk menusuk dan kutuk menutuk sesama mereka. Punca semua ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena dengki”. Kemudian aku perhatikan firman Allah: “Kamilah yang membagi-bagikan penghidupan di antara mereka dalam kehidupan di dunia ini”. (az-Zukhruf [43]: 32).
Maka aku tinggalkan dengki itu dan aku jauhkan diri dari orang banyak dan aku tahu bahawa rezeki itu datang dari Allah, maka aku tinggalkan permusuhan orang ramai kepadaku.
Keenam: “Aku melihat kepada makhluk ini selalu saling derhaka menderhakai dan saling berperang antara satu sama lain”. Maka kembalilah aku kepada firman Allah: “Sesungguhnya Syaitan itu musuh kamu. Sebab itu perlakukanlah dia sebagai musuh”. (al-Fathir [35]: 6).
Maka aku pandang syaitan itu sebagai satu-satunya musuhku dan dengan bersungguh-sungguh aku berhati-hati daripadanya, karena Allah mengakui bahwa syaitan itu musuhku dan aku tinggalkan permusuhan makhluk dengan sesama mereka.
Ketujuh: Aku melihat makhluk ini mereka masing-masing mencari sepotong dari dunia ini, lalu mereka menghinakan diri mereka padanya dengan merambah yang tidak halal daripadanya. Kemudian aku tertegun merenung firman Allah: “dan tidak adalah yang melata di bumi ini melainkan rezekinya pada Allah”. (Hud [11]: 6).
Maka sadarlah aku, bahwa aku termasuk salah satu yang melata di muka bumi ini yang rezekinya ada pada Allah. Dari itu aku kerjakan apa yang menjadi hak Allah ke atasku dan aku serahkan yang menjadi hakku kepada-Nya”.
Ke delapan: “Aku melihat manusia selalu bersandar kepada sesama makhluk. Yang ini kepada bendanya, yang itu kepada perniagaannya, yang itu kepada perusahaannya dan yang itu kepada kesehatannnya dan lain-lain lagi. Lalu aku kembali kepada firman Allah: “dan barang siapa menyandarkan dirinya kepada Allah, maka Allah mencukupkan keperluannya”. (at-Thalaq [65]: 3).
“Maka aku pun menyandarkan diriku (bertawakal) kepada Allah dan Allah mencukupkan keperluanku”.
Syaqiq sang gurupun berucap: “wahai Hatim! Kiranya Allah memberikan taufiq kepadamu! Aku telah memperhatikan segala ilmu pengetahuan dalam Taurat, Injil, Zabur dan al-Quran yang mulia, maka aku dapati bahawa segala macam kebajikan dan keagamaan berkisar di atas lapan masalah tersebut. Barang siapa memakainya, maka bermakna telah memakai ke empat kitab itu”.   

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 22:01 Kategori:

1 comment:

Anonymous said...

Sungguh menginspirasikan