Wednesday, 25 September 2013

Bahasa Melayu milik Siapa?



Tanggal 18 September 2013, sebuah berita di laman Republika online dengan judul “Bahasa Indonesia Dicaplok Brunei” menyentak saya. Alasannya karena 'Kamus Bahasa Melayu Nusantara' isinya 50 persen lebih mengambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kleim sumber tersebut.
Yang lebih menyentak karena statement ini dikeluarkan oleh anggota DPR dari komisi X, ''Bahasa kita dicaplok ke kamus mereka, ini efeknya politik. Seolah-olah bahasa Melayu milik mereka dan di internasional mereka yang naik,'' ujar Anggota Komisi X DPR RI, Itet Tridjajati Sumarijanto. kepada wartawan ROL, Rabu (18/9).
Berita ini seakan-akan menyadarkan saya, ternyata bangsa ini (baca: orang Indonesia) masih terlalu mudah dan cepat sekali serta gegabah menuduh orang (baca: negara lain) sebagai pencaplok ataupun pencuri.
Sebelum menuduh Brunei Darussalam sebagai pencuri bahasa, telah lama “kita” juga menuduh Malaysia mencuri berbagai-bagai tarian daerah, dari Reog Ponorogo, tarian Pendet Bali sampai Tor-tor Batak. Selain tarian, kraft tangan juga ikut kita klaim di curi orang, batik misalnya.
Selain menuduh orang, “kita” juga tidak lupa menuding dan meratapi diri sendiri karena tidak mampu melindungi aset berharga yang “kita” miliki sehingga dengan begitu mudah “di klaim” orang. Isu ini terus bergulir bahkan tidak jarang diekspresikan dengan demonstrasi.
Kembali ke masalah bahasa, saya tertanya-tanya, benarkah Brunei mencuri bahasa Indonesia gara-gara dalam “Kamus Bahasa Melayu Nusantara” terbitan Brunei hampir setengah di dalamnya ada istilah bahasa “Indonesia”?. Atau jangan-jangan nanti kita juga akan menuduh Malaysia sebagai plagiat bahasa, karena dalam “Kamus Dewan”, kamus rujukan bahasa Melayu di Malaysia juga sangat banyak mengandungi bahasa Indonesia, bahkan penyusunnya pun, Teuku Iskandar adalah orang Aceh yang nota benenya juga orang Indonesia?!
Logika yang sama coba saya bawa ke dunia yang lebih Global dengan pertanyaan, kenapa orang Inggeris tidak pernah protes apalagi menuduh orang Amerika sebagai pencuri bahasa, sementara dalam Kamus “Bahasa Amerika” semuanya istilah Inggeris!. Apakah karena orang Amerika tidak menggantikan nama bahasa mereka dengan bahasa Amerika, tetapi tetap menggunakan nama bahasa Inggeris?. Hal yang serupa juga berlaku di Australia, mereka tetap memakai bahasa Inggris bukan bahasa Australia! Canada dan berbagai-bagai negara yang mengunakan bahasa Inggeris sebagai bahasa resmi negara juga demikian! Apakah dengan mereka menggunakan bahasa Inggris, mereka tidak memiliki jati diri, lantas orang Inggris juga perlu merasa marah bila bahasa mereka di pakai sebagai bahasa resmi negara lain?
Kalau mahu dilihat dari jumlah penduduk dan luas wilayah serta pengaruh di dunia, Amerika sudah sangat layak untuk menciptakan bahasa sendiri dan menghilangkan embel-embel Inggeris di belakang bahasa mereka!
Hal ini berbeda dengan Indonesia, kalau pertanyaan di munculkan, sebenarnya bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa Apa? Apakah bahasa Indonesia lahir begitu saja? Ketika lahir terus bernama bahasa Indonesia? Tentu tidak, sebelum bernama bahasa Indonesia, bahasa ini sebenarnya adalah bahasa Melayu yang dipakai di seluruh rantau kepulauan Melayu, yang lebih dikenal dengan istilah “Nusantara” oleh orang di luar Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan karya-karya ulama sebelum kemerdekaan Indonesia atau sumpah pemuda diucapkan. Mereka telah menghasilkan karya-karya dengan bahasa Melayu bertulisan Arab jawi, apakah bahasa yang mereka gunakan Bahasa Indonesia?, tentu tidak! Apakah imam Nawawi al-Banteni bukan orang Indonesia?. Jawabannya tentu juga tidak. Lebih jauh lagi ke belakang, “Hikayat Aceh” dan berbagai-bagai karya sastera dan keagamaan pada abad 16 dan 17 di tulis kebanyakannya dalam bahasa Melayu. Tentu pada zaman itu, Indonesia belum wujud lagi. Karya-karya anak bangsa ini menjadi khazanah kesusasteraan Melayu yang tidak ternilai harganya. Lebih jauh lagi ke belakang, tahun 682 Masehi telah di temukan prasasti (batu bersurat) di Sumatera Selatan dalam bahasa Melayu. Ini menunjukkan bahawa bahasa Melayu telah hidup dan menjadi Lingua Franca di alam Melayu sebelum bahasa Indonesia.
Bila dilihat kepada asalnya, orang-orang Melayu itu akarnya berada di Sumetera, baik di Riau, Jambi, ataupun Palembang. Bahkan dalam tata bahasa Melayu Malaysiapun tetap diakui bahawa standar bahasa Melayu adalah bahasa Melayu Riau dan Johor.
Logika lain, Kalau dicermati, bahasa Inggeris yang dituturkan orang Amerika, apakah sama dengan bahasa Inggris yang dipakai orang Inggris sendiri? Tentunya sama, tetapi berbeda. Demikian juga dengan bahasa Inggris yang dipakai oleh orang Canada dan Australia, semuanya sama tapi berbeda. Sama dalam artian ketika orang Amerika berjumpa dengan orang Inggris atau Australia atau mana-mana negara yang memakai bahasa Inggris untuk berkomunikasi, mereka saling bisa memahami. Bedanya? Tentu dalam dialek dan pengucapan, masing-masing negara memiliki cara dan dialek tersendiri.
Bila keadaan ini kita bawa ke rantau Melayu, baik Indonesia, Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam, Selatan Thailand, Mindanau di Philipina yang masih menggunakan bahasa yang termasuk dalam rumpun Austronesia ini, bahkan di pulau Christmas di Australia dan penduduk Melayu di Afrika Selatan, apakah jika kita berkomunikasi dengan meraka, kita bisa saling memahami, jawabannya ia. Kenapa? Karena akar bahasa yang kita pakai adalah sama, walaupun jika dilihat lebih jauh, sesama kita di rantau Melayu ini memiliki perbedaan pengucapan dan bahkan pergeseran makna dari satu kata yang sama.
Menurut hemat saya, kita sebenarnya patut berbangga masih memiliki satu bahasa yang bisa difahami oleh ramai orang di rantau ini, dan anak-anak muda patut juga mengetahui bahawa bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa Melayu, dan orang Melayu dimanapun mereka berada ketika ingin mengkodefikasi “bahasa mereka” (baca: bahasa kita) dalam bentuk kamus sebagai rujukan, sebenarnya tidaklah mencuri bahasa Indonesia!

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 08:42 Kategori:

No comments: