Sunday, 14 July 2013

SALING MENGHARGAI HINGGA KE TEMPAT PARKIR



Sebagaimana Ramadhan tahun sebelumnya, malam satu Ramadhan tahun ini yang bertepatan dengan malam rabu tanggal 9 July 2013, kami sekeluarga dan dua orang jiran sepakat untuk menunaikan shalat sunat terawih di Masjid Negara Kuala Lumpur yang terletak kira-kira 15 menit perjalanan dengan kenderaan dari rumah kami.

Ada beberapa alasan kenapa kami memilih untuk shalat terawih di masjid ini, yang pertama suasana terawih di Masjid Negara bagaikan shalat di Masjidil Haram, hal ini tidak terlepas dari bacaan imam yang sangat mirip dengan bacaan imam Masjidil Haram. Walaupun berada di Kuala Lumpur, seolah-olah bagaikan shalat di Makkah al-Mukarramah. Imam yang sememangnya hafal al-Quran juga membaca dengan penuh penghayatan, sehingga dua puluh rakaat terasa bagaikan sekejap. Imam yang mengimami shalat adalah imam jemputan (undangan) dari Mesir, Syaikh Muhammad al-Dusouqy Taha Ridwan, sudah tiga tahun berturut-turut beliau menjadi imam terawih di Masjid Negara. 

Alasan kedua, karena suasana masjid yang sangat nyaman, dengan karpet yang bersih dan ruang shalat yang berhawa dingin ditambah dengan sound sistem yang sangat baik serta jemaah yang terdiri dari berbagai bangsa dan negara sehingga suasana shalat begitu syahdu. Moment selesai shalat tidak jarang kami jadikan sebagai ajang silaturahim antara umat Islam dari berbagai-bagai negara. 

Selain itu setiap selesai shalat, Panitia Masjid juga menyediakan makanan ringan, di Aceh dalam bahasa seloroh sering disebut dengan “boh teraweih”, di Malaysia di namakan dengan “Moreh”, mungkin berasal dari kata bahasa Arab “murih” yang ertinya “menyenangkan atau menyantaikan”.  Jadi habis terawih bisa santai melepaskan penat sambil menikmati hidangan ringan dengan beberapa menu pilihan, semua tentunya FOC alias free of charge.

Pada malam pertama, Nazir masjid memberikan pengarahan dan menghimbau masyarakat untuk memenuhi saf-saf shalat di Masjid negara, karena Masjid Negara terletak di kawasan yang agak jauh dari perumahan mahupun perkampungan penduduk, dalam bahasa Melayu disebut masjid yang tidak ada ahli qariah. Jemaah adalah orang-orang yang dengan sengaja datang dari tempat lain untuk shalat di situ.

Dari sekian banyak himbauan, yang menarik perhatian saya adalah sikap responsif sang nazir masjid dan pihak pengurusnya terhadap keperluan jemaah yang menghadiri shalat. Salah satunya adalah masalah parkir kenderaan. Bukan karena tidak cukupnya lahan atau tidak ada juru parkir, tapi lebih kepada responsif pengurus masjid dalam merasakan denyut hasrat para jemaah. 

Dalam pesannya beliau berkata “malam esok insya Allah kita akan bagi tanda penunjuk arah tempat parkir antara yang shalat 8 rakaat dan 20 rakaat, kerana ada sesetengah jemaah yang shalat 8 rakaat terpaksa shalat 20 rakaat kerana menunggu kereta (mobil) mereka yang tak boleh keluar”, ucapnya dengan sedikit bercanda. Kemudian ia meneruskan “Untuk moreh juga kita sediakan bagi jemaah yang 8 rakaat dan jemaah yang terawih 20 rakaat”.

Nyata saja, malam besok sudah terlihat petunjuk arah tempat parkir, di mana jemaah yang shalat 20 rakaat parkirnya lebih ke dalam dan yang shalat 8 rakaat parkirnya di sebelah luar. Pemandangan yang terlihat, ketika shalat 20 rakaat selesai, parkir sebelah luar yang ketika shalat isyak penuh sesak dengan kenderaan telah kosong.  
  
Sebuah fenomena toleransi yang cukup tinggi dan sikap kedewasaan dalam menghargai semua jemaah dan benar-benar menempatkan masjid sebagai tempat ibadah bagi semua umat Islam, apa pun kecenderungan aspek amaliah ibadah mereka.

Sikap kematangan sang nazir membuktikan bahawa masjid betul-betul dikelola dengan berlandaskan keimanan, bukan atas dorongan nafsu atau kepentingan tertentu, sehingga tidak merasa sinis apalagi benci terhadap perbedaan pemahaman dalam masalah khilafiyah fiqhiyah sebahagian jemaah. 

Agaknya mereka begitu memahami bahwa apa pun pegangan dalam beribadah, masjid tetaplah rumah Allah yang harus menampung semua hamba-hamba-Nya.  

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 12:56 Kategori:

No comments: