Sunday, 23 June 2013

JEREBU



Hari ini, Minggu 23 Jun 2013, suasana di depan rumahku nampak putih mendung dengan pandangan yang tidak dapat menjangkau jauh karena dihalang oleh asap putih yang menyelimuti hampir seluruh bangunan yang berhadapan dengan flat tempat kami tinggal. Bau menyengat sangat menusuk hidung dengan aroma asap kebakaran, bukan hanya di luar, di dalam rumahpun juga terasa. Orang-orang yang beraktiviti di jalan-jalan banyak yang menutup wajah mereka dengan masker.

Ini bukanlah hari pertama, sudah dua tiga hari keadaan seperti ini kami lalui, namun hari ini lebih buruk dari kemarin. Kejadian ini juga bukan untuk pertama kalinya berlaku, ia adalah peristiwa yang terus berulang saban tahun setiap musim kemarau menjelma.

Di sebahagian negeri seperti Johor Baharu yang berbatasan langsaung dengan Singapura, kabut asap telah melampaui ambang batas pencemaran udara sehingga membuat pemangku kebijakan meliburkan persekolahan dan menyarankan masyarakat untuk mengurangkan aktiviti di luar rumah. Singapura lebih parah lagi, jarak pandang sangat terbatas bahkan sinar mataharipun tertutup kabut asap dan index pencemaran udara mencapai angka lebih 400 yang bisa membahayakan nyawa orang sakit dan lanjut usia (ROL 22/6), sementara index sihat adalah di bawah paras 50. Di dalam negeri Indonesia, kota Dumai juga tidak kalah parahnya, jarak pandang hanya 30-40 meter gara-gara kabut asap ini.

Penyebab semua ini adalah jerebu (kabut bercampur debu) yang berasal dari kebakaran atau pembakaran lahan (kalau benar) di wilayah Riau Sumatera. Kebakaran juga ikut terjadi di Kalimantan Tengah sebagaimana dilaporkan ROL 23/6, berat dugaan kebakaran yang terjadi adalah karena disengaja untuk membersihkan lahan. 

Berbagai-bagai reaksi muncul, dari komplain Singapura sampai respons pejabat negara Indonesia yang mengatakan Singapura ke kanak-kanakan dan keengganan untuk meminta maaf dengan alasan sedang berusaha sedaya upaya untuk memadamkan api tersebut (Sinar Harian.com.my 23/6/13). 

Beragam alasanpun dimunculkan, dari fenomena alam sampai sikap mengambil jalan pintas pembersihan lahan. Alasan pembenaran juga di ungkap bahawa asal api atau asap itu berasal dari ladang yang juga dimiliki oleh perusahaan asing baik Malaysia mahupun Singapura atau paling tidak berkantor di Singapura selain milik masyarakat. 

Memang, kebakaran sebenarnya juga merupakan fenomena global karena tidak hanya berlaku di Indonesia, Australia juga sering dilanda kebakaran, Amerika juga. Apa pun yang berlaku, kita mudah lupa bahawa ia terjadi di wilayah hukum kita, upaya pencegahan dan pengawasan yang diusahakan selama ini ternyata belum cukup untuk mengekang kebakaran dan ini bukan kejadian yang pertama, setiap tahun! setiap tahun juga ancaman hukuman diumbar terhadap yang bertanggung jawab, namun setiap tahun asap itu tetap berterbangan melintasi batas lautan sehingga mencemarkan udara, bukan hanya di negeri sendiri tapi juga sampai ke negeri orang!. 

Semoga tuhan memberi jalan keluar! dan kepada yang sedang berusaha memadamkan titik api (hotspot) diberikan kekuatan dalam menjalankan tugas, kepada pemerintah jangan hanya menggertak, tapi mintalah pertanggungjawapan pihak yang bersalah sambil mengedukasi bahawa mencemarkan udara adalah merugikan semua pihak.
Add caption

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 12:26 Kategori:

No comments: