Monday, 10 June 2013

Iman dan Shalat: Solusi Duka Pelipur Lara

Iman dan Shalat: Solusi Duka, Pelipur Lara » The Globe Journal


Setiap tanggal 27 Rajab saban tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati sebuah peristiwa penting yang sempat menggemparkan dan membuat heboh masyarakat Arab jahiliyah. Peristiwa besar ini tersebar ke seantero pelosok tanah Arab dengan begitu cepat. Padahal waktu itu belum ada jalur lebar, internet, hand phone, tv, radio, koran dan berbagai alat komunikasi canggih yang ada sekarang. Namun kisah agung dalam sejarah kenabian Muhammad s.a.w dengan speed tinggi terakses oleh penduduk jazirah Arab. 
Secara logika, ini menunjukkan peristiwa Israk Mikraj adalah peristiwa yang amat penting. Peristiwa yang dianggap aneh, tidak logis dan kisah dusta, itulah sebagian ungkapan yang disematkan oleh masyarakat yang tidak beriman dan dedengkot Arab Jahiliyah yang diketuai oleh Abu Jahal pada waktu itu. Mana mungkin melakukan perjalanan sejauh itu dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina dalam jangka waktu sepertiga malam dengan alat transportasi yang tersedia pada masa itu hanya kuda, unta dan keledai. Muhammad benar-benar pembohong besar, begitulah kira-kira cemeohan yang dialamatkan kepada Rasulllah.
 
Di sisi lain bagi mereka yang benar-benar beriman, ini adalah kisah benar (true story), yang hanya dapat ditafsirkan melalui media keimanan. Orang yang tanpa pikir panjang mempercayainya adalah Abu Bakar yang kemudian digelar dengan al-Siddiq. Dengan media keimanan, israk mikraj tidak terbantahkan karena rasul tidak berjalan sendiri akan tetapi diperjalankan oleh Allah Azza Wajalla; Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS: Al-Isra', 1).

Israk mikraj merupakan satu perjalanan Ilahiyah yang tidak ada bandingannya dalam sejarah peradaban manusia yang menjadi mukjiz (perkara yang tidak terbantahkan), lambang kebesaran dan kemuliaan Rasulullah SAW.

Peristiwa Isra' dan Mi'raj terjadi pada tahun ke sepuluh kenabian dilatar belakangi oleh peristiwa pilu menyayat hati Rasulullah sehingga tahun tersebut dikenal dengan “tahun duka cita” yang dalam literature sirah nabawiyah dikenal sebagai “amul huzni”.

Masalah dan jalan keluar
Tragedy yang menimpa rasul sebelum di israk mikrajkan oleh Allah adalah perginya dua orang yang merupakan figure dan tulang punggung dakwah Rasulullah; Khadijah al-kubra sebagai the women behind the man dan Abi Thalib sang guardian (penjaga) dakwah rasul. Kepergian dua pilar utama ini menimbulkan tekanan psikologi bagi rasulullah ditambah lagi dengan meningkatnya tekanan physic, ekonomi serta boikot sembako dan komunikasi yang dilakukan oleh kaum Quraisy selama 2 tahun sebelum peristiwa israk mikraj. Keruh dan runyamnya keadaan mendorong Rasulullah untuk Hijrah berpindah ke Thaif dengan harapan mendapat suasana baru dan penduduknya menerima seruan dan bersedia membantu perjuangannya. Malangnya, segala harapan hancur berkecai kerana penduduk Thaif bukan saja tidak mahu memberi perlindungan kepada Nabi, malah Nabi dicaci, dihina dan dianiaya, lalu Allah mengisra' mi'rajkan RasululNya untuk memperteguh keimanan di samping menghiburnya.

Secara implisit menjelaskan bahwa, cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah, keduka citaan dan segala himpitan kehidupan duniawi adalah dengan cara mengadu kepada pemilik semua masalah dan penguasa segala jalan keluarnya; Allah SWT. Adalah satu tindakan yang kurang tepat atau lebih pas dikatakan salah, sesat dan menyesatkan apabila ada yang beranggapan bahawa cara untuk menghibur diri dari kesedihan adalah melalui hiburan-hiburan malam, berenang dalam kubangan narkoba dan memasung diri dalam perjudian dan segala jalan hitam lainnya yang dapat menyemai benih-benih ke arah budaya mungkar dan maksiat serta membutakan hati dari etika dan syariat Islam.

Sambungan bebas hambatan
Dalam kesempatan Israk Mikraj, Allah mensyariatkan kepada Rasulullah dan pengikutnya sebuah ibadah yang dapat dikatakan sebagai sambungan langsung bebas hambatan (direct call) antara seorang hamba dengan rabbnya. Sebuah saluran kontak langsung yang cukup intens, sepatutnya dilakukan paling kurang lima kali dalam sehari semalam. Sebuah ibadah yang dijanjikan Allah bagi yang melaksanakannya akan tercegah dari perbuatan keji dan mungkar dan disifatkan oleh Rasul sebagai tiang dan penyangga Agama, itulah shalat.

Peristiwa Isra' dan Mi'raj turut menggambarkan koneksi langsung antara sistem peraturan sang Khalik dan Makhluk. Makhluk tidak boleh bertindak bebas tanpa berpandukan peraturan dan undang-undang dari al-Khaliq. Pendek kata, segala tindak-tanduk manusia sebagai makhluk mestilah mengikut kehendak al-Khaliq baik dari aspek individu, masyarakat, negara, ekonomi, undang-undang dan sebagainya. Ini bermakna sekiranya makhluk itu beriman, tidak ada pilihan melainkan tunduk patuh menyerah diri kepada peraturan Allah SWT. "Mengapakah mereka mencari agama selain daripada agama Allah? Walhal segala apa yang ada di langit dan bumi telah menyerahkan diri kepada-Nya dengan sukarela dan terpaksa. Dan kepada-Nyalah mereka akan dikembalikan" (Ali Imran: 83).

Tidak dapat dipungkiri, banyak problem-problem hidup yang dipersepsi dapat ditanggulangi dengan pendekatan hukum, ekonomi, sosial, politik dan budaya, ternyata malah kadangkala mengecewakan dan membuat hidup hampa makna. Dalam kehampaan inilah, momentum Israk Mikraj sebagai wisata spiritual diharapkan dapat memberi perspektif lain dalam penyelesaian problem-problem keduniaan dan kemanusiaan. Persis sama, Israk Mikraj didahului tahun-tahun duka cita yang mengganggu nabi secara psikis. Wisata spiritual Israk Mikraj ingin menegaskan, bahwa kekuatan, ketabahan, harapan dan tantangan, sedikit banyak dapat diatasi dengan peningkatan spiritualitas. Nabi Muhammad telah membuktikan bahawa menumbuhkan perasaan bahwa Tuhan berdekatan dengan hamba-Nya dan selalu mengingat Allah akan membawa ketentraman jiwa sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur'an; (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (ar-Ra’du: 28). Semoga israk mikraj dapat menjadi cerminan dalam menyelesaikan kekalutan hidup.

 

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 10:18 Kategori:

No comments: