Saturday, 4 May 2013

Adakah Hak Buruh dalam Islam?



Setiap tanggal 1 May manusia se isi dunia di sibukkan dengan hari libur yang dinamakan dengan May Day atau dikenal juga dengan hari buruh sedunia.
Mengikut sejarahnya, peringatan hari buruh ini merupakan hasil perjuangan panjang para pekerja pada abad XIX Masehi dengan peluh, air mata bahkan meregang nyawa untuk hanya sekedar mendapatkan hak mereka agar jam kerjanya dikurangi menjadi 8 jam dalam sehari, mendapatkan upah yang layak, lingkungan kerja yang bersahabat dan untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari majikan.
Menurut buku The History of May Day dan laporan situs Wikipedia, Pada tahun 1806, di Amerika terjadi mogok kerja pertama yang dilakukan oleh para karyawan Cordwairners untuk menuntut hak-hak mereka, buntut dari mogok ini adalah dimeja hijaukan para penggerak demo yang akhirnya membongkar fakta bahwa para buruh bekerja antara 19-20 jam dalam sehari.
Pada tahun 1873 Peter McGuire dan Mathew Maguire bersama 100.000 buruh berdemonstrasi guna menuntut pengurangan jam kerja. Peristiwa berikutnya terjadi pada 5 September 1882, di kota New York berlangsung parade buruh pertama yang diikuti oleh 20.000 orang dengan mengusung spanduk bertulisan; 8 jam kerja, 8 jam istirahat dan 8 jam rekreasi, parade buruh ini tidak terlepas dari peran McGuire dan Maguire.
Penetapan 1 Mei sebagai hari buruh sedunia dilakukan melalui sebuah Kongres Sosialis Dunia yang berlangsung pada bulan Juli tahun 1889 di Paris, dan sejak tahun 1890 di beberapa negara dunia mulai diperingati sebagai hari buruh.
Pemilihan tanggal 1 May sebagai hari buruh berdasarkan pertimbangan history bahawa pada 1 May 1886, di Amerika Serikat 40.000 orang buruh melakukan demo besar-besaran untuk menuntut limitasi jam kerja supaya hanya 8 jam dalam sehari. Pada hari ke empat para demonstran ditembaki dan pemimpin mereka di hukum mati. Selain peristiwa di Amerika, penetapan hari buruh juga terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh pada tahun 1872 di Kanada.
Bila dilihat rentetan peristiwa yang terjadi sehingga lahirnya May Day, maka dapat disimpulkan bahwa ini adalah akibat wujudnya perlakuan sewenang-wenang para pemilik modal terhadap buruh sehingga hak-hak dasar mereka tidak terpenuhi, terutama sekali adalah beban kerja yang melebihi batas kewajaran dan kemanusiaan, bisa dibayangkan seseorang bekerja 19 atau 20 jam dalam sehari, bermakna hanya ada 4 atau 5 jam untuk istirahat dan mengurus keperluan hidup sehari-hari. Selain itu para buruh juga menuntut hah-hak dasar mereka untuk dipenuhi, seperti masalah penggajian, lingkungan kerja yang sesuai, perlakuan yang baik dari majikan dan lain sebagainya.

Rasul dan Buruh
Sebelum Eropah riuh rendah dengan tuntutan aksi buruh, lebih seribu tahun sebelumnya Rasulullah telah menghadapi masalah yang sama bahkan mungkin lebih berat, karena manusia pada zamannya bukan hanya dipekerjakan bahkan diperjual belikan sebagai komoditi dan hak-hak personal mereka hilang sama sekali. Dalam situasi sosial yang sedemikian parahnya, Rasulullah memberikan rambu-rambu dan panduan untuk memperlakukan buruh (baca; pekerja) dengan sangat manusiawi tanpa menunggu adanya demonstrasi, pembentangan spanduk apalagi mogok kerja. 

Upah tepat waktu
Dalam hal Upah, Rasulullah memerintahkan para majikan untuk membayar gaji tepat waktu, yang diibaratkan dengan ungkapan “sebelum keringat pekerja kering” sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Selain itu Islam juga menganggap orang yang menzalimi para buruh sebagai musuh Allah, sebagaimana diriwayat oleh imam Bukhari dan Ibn Majah dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman: “Tiga orang yang akan menjadi musuh-Ku pada hari kiamat;…..orang yang mempekerjakan seorang buruh, buruh melaksanakan tugasnya dengan baik namun ia tidak memberikan upahnya.

Manusia adalah sama
Selain kepastian upah, Rasulullah juga mensejajarkan buruh dengan majikan dalam artian kesamaan taraf selaku manusia dan tidak ada perbedaan kasta antara majikan dan buruh sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Zar dalam hadits Bukhari, Nabi bersabda: saudara kalian adalah budak kalian, Allah jadikan dibawah kekuasaan kalian.

Meringankan beban kerja
Dalam hal beban Kerja Rasulullah memerintahkan untuk membantu para pekerja dan memberikan pekerjaan sesuai dengan kesanggupannya, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Bukhari, Nabi bersabda: Janganlah kalian membebani mereka (budak), dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka bantulah mereka. Keringanan yang diberikan oleh majikan kepada pekerjanya juga dinilai sebagai amal kebaikan yang akan memberatkan timbangan amal, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Hibban.
Rasulullah juga menegur seorang sahabat yang kedapatan memukul seorang hambanya, Rasulullah mengingatkannya: “hai Ibn Mas’ud, Allah lebih kuasa menghukummu seperti itu daripada kemampuanmu menghukumnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Tirmizi. Feedback yang diberikan oleh Ibn Mas’ud adalah dengan segera membebaskan budaknya.

Hak dan tanggung jawab
Selain memberikan perhatian kepada hak buruh, Rasulullah juga mengingatkan para pekerja bahwa pekerjaan yang dilakukan haruslah secara profesional sesuai dengan tingkat pekerjaan, yang dalam istilah hadits disebut dengan “itqan”, teliti dan sesuai dengan spesifikasi yang dituntut oleh pekerjaan. Hak dan kewajiban mesti seiring sejalan, seirama, sejajar dan balance. Menuntut hak pada dasarnya juga dituntut tanggung jawab, dalam hadih maja Aceh dikatakan “menyoe na heik na hak, cok hak hana heik huk”, mengambil hak adalah setelah mengerjakan kewajiban, seandainya hak diambil sebelum menunaikan kewajiban maka akan tersedak. Selain itu juga mengingatkan bahawa apa pun yang diperoleh sebagai jerih payah adalah anugerah Allah yang patut disyukuri, bersyukur adalah merupakan ciri utama hamba Allah.
Itulah tuntunan Rasulullah untuk menghormati hak buruh dalam segala segi permasalahan krusial yang mereka dihadapi. Ternyata masalah upah, beban kerja, penghargaan kepada buruh dan profesionalisme bukanlah issue dan masalah yang hanya terjadi hari ini, dari zaman dahulu lagi buruh sudah dieksploitasi.
Bekerja dan berusaha merupakan spirit ajaran yang dibawa Rasulullah, Islam menyuruh pemeluknya bekerja keras. Banting tulang peras keringat, karena apa pun yang dilakukan akan bernilai ibadah asalkan dilakukan dengan penuh keikhlasan. Selain bekerja dan berusaha, mengingat pemberi rezeki adalah starting point ajaran yang dibawa Rasulullah. Pemberi rezeki yang sebenarnya bukanlah majikan akan tetapi yang memberikan rezeki adalah Allah sang Maha Pencipta, majikan hanyalah perantara saja.
Menikmati rezeki tanpa kesyukuran adalah bentuk kekufuran, bekerja dengan tidak profesional bermakna mengangkangi ajaran rasul, tidak berlaku adil kepada buruh dan menggelapkan hak-hak mereka adalah tidak menghargai perjuangan dan tuntunan Rasulullah. Menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban secara profesional juga termasuk pendangkalan nilai-nilai yang dirintis oleh sang pejuang hak buruh. 

Semoga kita selaku bekerja dengan profesional dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya, selamat hari buruh dan semoga buruh selamat dunia dunia akhirat!

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 20:19 Kategori:

No comments: