Friday, 12 April 2013

Rahmatan lil’alamin kah Islam kita?

Rahmatan lil’alamin kah Islam kita? » The Globe Journal



Mimbar diambil massa, khatibpun duduk di atas kursi plastik, itulah sebuah judul harian lokal Aceh Serambi Indonesia yang terbit hari sabtu (6/4/13). Sebuah berita yang menghentak hiruk-pikuk masalah bendera Aceh dan segala kehangatan permasalahannya antara Aceh dan Jakarta. 

Aneh bin ajaib, langka tapi nyata, tapi itulah realita yang terjadi. Belum lagi kasus penurunan dan pemukulan khatib dari mimbar khutbah di Pidie dan masjid Abu Beureueh hilang dari ingatan kita, muncul pula kasus perampasan mimbar dari dalam masjid menjelang pelaksanaan jumat di Samalanga, sehingga khatib harus berkhutbah menggunakan kursi plastik, berita yang menghentak sejenak kegaduhan jagat perpoilitikan membuat masam wajah kedamaian Aceh serta memalukan kabupaten Bireun secara umum dan khususnya Salamanga yang terkenal dengan kota Santri. 

Polemik shalat jumat di Samalanga ini sebenarnya bukanlah hal baru, menurut laporan beberapa situs berita online, perkara ini sudah berlaku selama tiga tahun lebih. Mengikut laporan Atjehpost.com (7/2/13), kisruh masjid di kompleks pesantren ini bermuara pada masalah kelayakan suatu tempat untuk di gelar prosesi shalat jumat padanya. Eksesnya adalah terjadi penghadangan warga untuk shalat jumat pada 8 ferbruari 2013, bahkan juga sempat terjadi pemukulan terhadap mantan keuchik Arongan (Atjehpost.com 8/2/13). Puncak kejadian memalukan adalah “perampasan” mimbar khutbah oleh sekelompok orang pada jumat 5/4/13 yang keesokan harinya ditemukan lam bak meuria (the Globejournal.com 6/4/13 dan Serambi Indonesia 7/4/13).

Berbagai-bagai cara sebenarnya telah ditempuh untuk menyelesaikan masalah ini, dari fatwa MPU Bireuen, pertemuan para pihak yang difasilitasi oleh Muspida, sampai menunggu fatwa yang lebih tinggi dari MPU Aceh, bahkan telah dimusyawarahkan dan dibahas oleh para alim ulama kharismatik Aceh yang berlangsung di Blang Blahdeh yang keputusannya ditandatangani pada tanggal 7 Maret 2013 oleh Abu-Abu kharismatik dan panutan masyarakat Aceh, Namun kenyataannya adalah rosaknya sebuah tempat sakral yang selalu digunakan untuk menyempurnakan rukun khutbah.


Khilafiah Furu’iyah

Kalaulah benar punca permasalahan adalah masalah kelayakan mendirikan jumat, bermakna masalah ini tergolong dalam masalah khilafiyah furu’iyah, yang mana dalam fiqih diberikan space yang cukup leluasa untuk diinterpretasikan dalam kerangka ikhtilafu ummati rahmatun (perbedaan umatku adalah rahmat) dan prinsip umum yang diajarkan oleh nabi Muhammad “ma amartukum fa’tu bihi mastata’tum” (apa yang aku perintahkan lakukanlah semampumu).

Sementara penghadangan, pemukulan dan perampasan adalah kriminal dan pelanggaran terhadap hak konstitusi orang lain dan tentu ia merupakan perbuatan mungkar yang dilarang dalam Islam. Prinsip yang diajarkan nabi mengenai larangan adalah “ma nahaitukum ‘anhu fantahu” (apa yang aku larang maka tinggalkanlah) tanpa menggunakan embel-embel “semampumu”, dengan demikian maknanya setiap perbuatan kriminal tidak boleh dilakukan apa pun alasannya.

Kalaulah masalah ini dianggap meresahkan atau menyangkut perdata, tentu ada jalur hukum yang perlu ditempuh sehingga prinsip hukm al-hakim yarfa’u al-khilaf  (keputusan hakim menghapus perbedaan) bisa memberi kenyamanan bagi semua pihak.

Tanpa ingin menuding mana-mana pihak, peristiwa demi peristiwa yang terus berlaku di dalam masjid membuat kita tertegun dan perlu merenung dan menanyakan berbagai pertanyaan pada diri kita, Apa yang salah dengan cara kita beragama? Apakah Islam mengajarkan kita untuk bertindak demikian? Apakah setiap yang berbeda itu sudah pasti salah? Atau memang yang sama-sama mengucap kalimah syahadah dan beribadah menghadap satu tuhan sangat mudah kita anggap bukan bersaudara kita? Sehingga dengan begitu mudah kita saling bermusuhan?! 
Perbuatan dan tingkah laku yang belum pernah berlaku dalam sejarah umat Islampun coba kita tulis dengan tinta merah dalam sejarah tata cara beragama di Aceh? Ataukah ini hasil pendidikan di daerah yang kita agung-agungkan sebagai serambi Mekah? Pendidikan yang menghasilkan manusia-manusia tidak saling menghormati dan saling memusuhi sesama saudaranya?! Ataukah ini merupakan bentuk ekses dari tidak tegasnya para pemimpin dalam menjembatani perbedaan dalam masayarakat? Atau Narit dan hasil duk pakat ulama kharismatik sudah tidak lagi berkharisma? Sehingga dikangkangi begitu saja?!  Atau…atau…atau mungkin banyak lagi atau atau lain yang bermain di benak kita. Tapi yang pasti, kekerasan dalam masjid adalah menodai kesucaian rumah Allah dan kekerasan terhadap orang yang sedang menjalankan tugasnya sebagai penyeru kabaikan dalam khutbah bukanlah yang pertama berlaku di Aceh! Ini fakta yang menyesakkan dada. 

Islam kita ternyata belum membawa rahmat, jangankan lil’alamin untuk sesama muslimpun belum!
 

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 09:49 Kategori:

No comments: