Saturday, 12 January 2013

Pekerjaan Rumah Visit Aceh Year 2013

 Pekerjaan Rumah Visit Aceh Year 2013 » The Globe Journal


12 November merupakan sebuah momentum bagi pemerintah Aceh dengan mengisytiharkan  bermulanya Visit Aceh Year 2013. Dinas pariwisata Aceh setidaknya menargetkan tiga bidang komoditi utama yang akan dijadikan fokus dalam visit Aceh year 2013; eko wisata, agro wisata dan wisata budaya.
Keindahan alam yang dimiliki Aceh sangat luar biasa, dengan pantai lautnya yang berpasir putih dan airnya yang kebiruan serta ombaknya yang besar membuat nyali para pecinta surfing dan selancar tidak sabar ingin menikmati sensasinya. Selain itu, keindahan hutan lindung dan keganasan sungai-sungainya sangat menantang untuk menguji adrenalin para pecinta olah raga air. Alam alami anugerah Tuhan yang kita miliki tidak kalah jika tidak berlebihan untuk mengatakan lebih baik dari tempat wisata kelas dunia lainnya.
Keunikan makanan khas Aceh juga wah, dari Gulee pliek U, Mie Aceh yang sudah menasional, kari kameeng, manok gureng, sate matang, lincah mameih, jeruk drien dari pantai barat, manok masak rebong kala Aceh rayeuk, asam u, beulacan ulee engkot, kuah masam keueng, kuah engkot kereuling, kueh kekarah, meusekat, dodoi,   bungong kaye dan sebagainya.
Selain alam dan keragaman kuliner Aceh juga memiliki berbagai ragam situs budaya yang diwariskan nenek moyang dahulu kala sebagai bukti peradaban yang telah mereka bangun untuk anak cucu, termasuk pelaksanaan syariat Islam sebagai reliasasi positivikasi hukum syariat.

Wisata adalah Image atau pencitraan
Keindahan alam dan keaneka ragaman budaya tidak cukup untuk mengembangkan wisata. Wisata perlu pencitraan. Pencitraan perlu kerja keras untuk membuat promosi dan paket menarik serta yang tidak kalah pentingnya adalah memperbaiki attitude masyarakat. Bagaimana Malaysia menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi? Tidak lepas dari image yang di bangun sebagai Truly Asia dan kerja keras promosi dan penyediaan infrastruktur tourism yang terus di update.
Tampa disedari kita sering memberi kesan dan image negative tentang kita kepada orang lain, atau karena ulah “sebahagian kita”, tanpa kita sadari pandangan orang kepada kita jadi sedemikian adanya. Kesan yang didasari oleh kepentingan mendesak sesaat dan alasan tiada pilihan, akan tetapi itu akan menjadi kesan yang sulit dihapus oleh pengunjung sampai kapanpun.
Contoh nyata adalah akan langsung terlihat ketika orang luar pertama kali menginjakkan kaki di bandara Aceh. Pemandangan para penawar jasa pengangkatan barang yang bisa masuk sampai batas imigrasi sehingga berbaur dengan petugas bea cukai adalah hal yang tidak lumrah di bandara Luar negeri, akibatnya apa, troly pengangkut barang yang sepatutnya menjadi fasilitas layanan yang disediakan bandara untuk para penumpang jadi susah untuk didapat, karena sebahagian dipegang oleh para porter. Memang ada tarif yang “ditulis kecil” nyaris tidak nampak adalah Rp. 5000 untuk setiap potong, tidak jarang tawar menawarpun terjadi yang rata-rata berhujung pada rasa iba bercampur kekesalan. Fenomena ini tidak berlaku dibandara-bandara Internasioanal lainnya “tidak termasuk Indonesia”, semua berjalan lancar, penumpang melayan diri mereka sendiri, mereka tidak pernah mengeluh tidak adanya jasa porter. Troly dengan mudah di dapat, saya rasa para pengambil kebijakan bukanlah orang yang tidak pernah bepergian, malah mereka adalah orang-orang selalu berpergian baik dalam mahupun luar negeri, bahkan ramai yang lama menetap di luar negeri.
Transportasi darat juga setali dua uang dengan bandara, cuba anda turun di terminal terpadu Batoh, begitu saja bus berhenti dan pintu dibuka seakan anda disambut oleh gelombang demonstrasi, langkah anda meninggalkan bus mesti dengan susah payah untuk mendapatkan jalan, belum lagi riuh gaduh suara tawaran jasa pengantaran. Jika anda menggunakan jasa mereka maka pandai-pandailah anda menawar, kemudian bertawakkallah kepada Allah supaya tidak menggerutu mengenai harga. Alasan tingginya harga karena mereka harus antri dan kembali dari mengantar tamu dalam keadaan kosong, adalah alasan yang masuk akal akan tetapi tidak logis dalam layanan transportasi modern dan bagi kenyamanan konsumen.
Pelabuhan bagaimana? Tidak kalah dengan udara dan darat, ketidak jelasan penjualan tiket adalah hal biasa, loket baru dibuka, tiket sudah tidak ada yang tersisa, alasannya sudah dipesan duluan. Anda menggunakan kenderaan roda empat untuk menuju ke Sabang, maka siap-siaplah untuk mengantri kenderaan dari pagi-pagi buta bahkan bisa dari tengah malam. Anda tidak mahu mengantri atau tidak sempat mengantri ataupun malas, jalan keluarnya adalah menggunakan jasa para calo, yang kebanyakannya adalah “oknum” jika tidak kita katakan “oknum resmi”, dengan sejumlah bayaran, tiket akan dihantar ke tempat anda dan kenderaan roda empat bisa anda tinggalkan dan terima kunci setelah dalam very.

Kebersihan
Masalah dalam sektor kuliner juga tidak kalah sengit dari yang dihadapi sektor transportasi, masalahnya adalah kebersihan, masih ada bahkan banyak tempat makan (dengan tidak menafikan ada juga yang bersih) kurang memberi perhatian mengenai kebersihan dalam konteks “pemahaman global”, anda tidak akan merasa nyaman menyantap makanan kalau sebelumnya anda sempat menjenguk dapur tempat makanan yang disajikan kepada anda disiapkan. Tidak bersih apalagi hygienist, dapur yang tidak terurus, kebersihan yang tidak terjaga, sampah berserakan, belum lagi kamar mandi yang kadang-kadang pakai maskerpun masih tidak nyaman bernafas akan menjadi pemandangan.
Fenomena kebersihan fasilitas umum juga terjadi di terminal bus dan pelabuhan, walaupun anda dipungut biaya kebersihan di terminal, ternyata fasilitas yang tersedia tidak seindah nama besar terminal terpadu, dengan lampu yang redup, peralatan yang seolah-olah tidak terurus dan bau yang kurang sedap itulah fenomena umum, bagaimana dengan pelabuhan? Sama-sama masih sangat jauh dengan standar “global”.
Masalah kebersihan juga terjadi di fasilitas masjid, mungkin survey resmi belum pernah dibuat mengenai berapa banyak wc masjid disepanjang jalan yang nyaman untuk disinggahi meyambut para wisatawan religi! Hal ini juga berlaku dengan masjid jantung hati masyarakat Aceh, Masjid Raya Baiturrahman sebagaimana hasil spot check gubernur sebelum ini. Mungkin karena wc adalah tempat buang kotoran maka dianggap jorok, akan tetapi tidak selayaknya ia jorok, bahkan di luar negeri “mereka” sudah mengadakan kontes wc terbersih. Terlepas dari itu semua, bukankah kebersihan adalah sebahagian dari pada iman? berkoar di atas mimbar dengan hadis tersebut akan terasa tidak bermakna kalau di sebelah mimbar saja hadis itu tidak bisa di aplikasikan.
Selain wc masjid, juga mukenah yang disediakan oleh tempat ibadah yang biasanya disinggahi oleh pengguna jalan raya di sepanjang jalan Aceh, banyak yang tidak membuat nyaman orang yang menggunakannya untuk melaksanakan ibadah, mungkin perlu ada gerakan bersih peralatan ibadah dalam menyambut visit Aceh Year.

Hidden cost.
Masalah lainnya adalah “hidden cost”, atau harga siluman yang kadang terpaksa dibayar konsumen terhadap makanan yang telah di santap. Permainan harga ini adalah “harga perkenalan” bagi orang baru sering terjadi dengan modus salah kira dan sebagainya, tentu orang yang makan merasa segan untuk meminta perincian harga barang yang telah di konsumsi, walaupun itu sebenarnya adalah hak konsumen, akan tetapi jangan dikira konsumen tidak tahu, mereka tahu bahkan mengingat semua ini, bahawa dia telah di kerjain dan ini menjadi preseden buruk bagi layanan di Nanggroe Syariat.

Salah siapa?
Tidak ada yang bisa disalahkan kecuali orang yang bersalah, lagi-lagi untuk menentukan siapa yang salah tentu perlu proses pengadilan dan pembelaan, dalam hal ini tiada siapa yang mahu disalahkan, semua kita mesti berlapang dada, tidak menuding jari ke mana-mana sehingga akhirnya “meu awoe”.
Kita tidak bisa salahkan porter yang mengais sesuap nasi di bandara, tidak patut juga kita menyalahkan tukang ojek atau abang becak yang agresif mencari sewa karena tuntutan kehidupan yang membuat mereka tiada pilihan, juga tidak patut kita menyalahkan “oknum” di pelabuhan untuk mencari tambahan karena pendapatan mereka belum tentu mencukupi keperluan sehari-hari.
Yang patut kita lakukan adalah menegakkan peraturan dan memberi wilayah masing-masing, untuk airport porter ada kawasannya, kalau memang penumpang memerlukan mereka diberikan izin masuk, yang jelas fasilitas yang disediakan oleh pengelola bandara untuk penumpang dan pencari kehidupan ada perbedaan. Pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana memberdayakan mereka sehingga bisa mendapat penghidupan yang layak sehingga nantinya para pengguna jasa layanan airport bisa melayan diri mereka sendiri tanpa perlu memelihara budaya tuan dan hamba dan para porter yang nota benenya adalah pejuang bagi keluarga mereka mendapat sumber kehidupan yang layak.
Demikian juga dengan abang-abang becak perlu diberikan batas wilayah tertentu sehingga penumpang merasa nyaman. Masalah harga mungkin perlu juga becak diberikan argo, ini bahkan mungkin akan jadi model untuk daerah lain, becak berargo atau ditentukan saja range harga, misalnya jarak 1-2 km jasanya Rp. 7000, untuk jarak 500 m berikutnya ditambah 1000 demikian seterusnya, kalau malam ada charge tambahan misalnya 20% dari harga yang tertera atau bagaimana yang disepakati oleh para abang becak dan pemangku kebijakan. Hal ini sangat perlu untuk memberikan kepastian harga dan kenyaman bersama, baik bagi penyelenggara jasa mahupun dengan konsumen, karna sistem transportasi modern tidak kenal istilah bertekak apalagi kesal dan sakit hati pasca transaksi!
Masalah tiket penyeberangan mungkin perlu mengikut perkembangan zaman, dengan menggunakan kecanggihan online sehingga tiket bisa dibeli secara online selain yang dijual secara manual on the counter, tidak ada lagi loket-loket tikus dan loket kekerabatan, yang ada adalah loket resmi, sehingga orang bisa secara sama rata dan transparan mendapatkannya.
Untuk masalah harga makanan, memaparkan harga adalah satu hal yang sangat baik, sehingga barang yang dijual jelas harganya, para pengusaha mendapat rezeki yang murni halal dan konsumen pun tidak merasa aneh dengan hitungan harga makanan yang telah disantap.
Khusus untuk kebersihan kayaknya pemerintah perlu bekerja lebih keras untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat termasuk menyediakan perangsang pada tahap awal dengan menganggarkan dana atau peralatan kebersihan bagi warung dan rumah makan. Setelah itu baru sangsi “penertiban” dilakukan bila masih juga tidak bersih.
Goresan ini saya rasa tidak ada yang patut bermerah muka, karena itulah kita, kita apa adanya, lebih baik kita benahi bersama rumoeh getanyoe segohlom ta tung jame, semoga jame seuanang dan poe reumoh sejahtera. Welcome to Aceh dan happy Aceh Visit Year 2013.





ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 23:14 Kategori:

No comments: