Wednesday, 30 January 2013

Maulid: Satu Cinta Beragam Tradisi



Masyarakat Aceh terkenal dengan semangat memberi dalam bentuk kenduri, Jika dihitung-hitung mengenai kenduri dalam kehidupan orang Aceh, tak kurang dari sepuluh kenduri, bahkan mungkin lebih, yang dilakukan dalam setahun. Mulai dari khanduri sebelum lahir sampoe khanduri setelah meninggal dan munasabah-munasabah yang lain.
Diantara khanduri tersebut  yang dirayakan secara berkala tahunan adalah khanduri maulid dalam rangka memperingati hari kelahiran Rasulullah. Untuk khanduri ini, dalam kultur kebanyakan masyarakat Aceh, tidak cukup satu hari atau satu bulan, bahkan dirayakan selama tiga bulan berturut-turut, mulai dari moled eik (pada bulan rabi’ul al-awwal), teungoh (rabi’u al-Tsani) dan moled akhee (jumadi al-awwal).
Dalam pelaksanaan maulid, masalah biaya bukan kendala dan rasa murah hati serta jiwa pemurah orang Aceh sudah biasa di apresiasikan dalam berbagai bentuk kenduri atau disebut juga kenduri atau khauri; beih ubei abeih yang penting khanduri moled beujadeih, demikianlah kira-kira terjemahan bebasnya.
Kenduri yang satu ini walaupun tetap dilakukan secara meriah baik di rumah, meunasah, masjid bahkan di perhotelan setiap tahunnya, namun tidak terlepas dari kontroversi isu pro dan kontra mengenai yang menganggapnya sunah dan sebahagian yang lain beranggapan bid’ah.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mencampuri urusan sunah-bid’ahnya kenduri yang satu ini, apalagi membela satu pihak atas pihak yang lain, karena masalah ini telah menguras energy umat Muhammad sejak zaman dahulu lagi. Tulisan ini hanya ingin melihat titik temu dan semangat positif dari kedua-dua pandangan yang saling bertolak belakang ini secara lebih jauh dan bebas bias kepentingan, sehingga “dendam” pemikiran yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dapat sedikit mereda bila saling berbaik sangka (husnuzzhan), antara sesama “yang mengaku” umat Muhammad s.a.w. Dalam slogan yang lebih elegan, Hasan al-Banna menyebutnya dengan nata’awanu fiema ittafaqna wa nu’azziru ba’dhuna ba’dhan fiema ikhtalafna, mari bekerjasama dalam hal-hal yang kita sepakati dan saling memahami dalam hal yang saling berbeda.
Bila ditilik secara jernih antara yang pro dan kontra dalam masalah perayaan maulid, keduanya memiliki satu titik temu pada masalah dasar yang sama; sama-sama mencintai Rasulullah s.a.w.
Orang yang berpendapat bahwa tidak boleh membuat perayaan maulidur rasul dengan alasan tidak pernah dirayakan oleh baginda dan para sahabat “terutama dengan proses seperti yang berlaku sekarang”, adalah usaha mereka untuk mencintai Rasulullah apa adanya dengan cara tidak membuat sesuatu yang memang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat radhiallahu ‘anhum.
Sehingga yang dilakukan adalah hanya yang dibuat oleh Rasul dan para sahabat sahaja, sementara cara lain yang dilakukan oleh yang berbeda pandangan dianggap tidak ada atau mengada-ada dalam agama (bid’ah).
Sementara orang yang melakukan perayaan maulidurrasuul beranggapan bahawa kenduri dan ritual yang dilakukan adalah sebagai bentuk ungkapan rasa cinta kepada baginda, paling tidak dengan adanya perayaan ini akan menggugah ingatan kepada hari lahirnya penerang alam semesta yang berujung kepada pengamalan sunah-sunah yang beliau tinggalkan. Pengungkapan rasa cinta adalah ekspresi dalam bentuk budaya yang dalam pelaksanaannya akan berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain, dan pengungkapan rasa cinta tentu dengan nilai estetika yang berbeda pula.
Bila di Aceh dilakukan dengan bentuk kenduri, menyantuni anak yatim, ceramah agama, dike, dan berbagai-bagai acara lainnya, lain pula di tempat lain, di Malaysia misalnya, selain dengan ceramah, mereka juga memperingatinya dengan pawai kompang (rebana) di sepanjang jalan dan mengelilingi perkampungan. Di Mesir lain lagi, setiap musim maulid tiba, akan banyak boneka berjejer di toko-toko untuk dibeli oleh orang tua dan dihadiahkan kepada anak-anak mereka, selain boneka, anak-anak juga akan dihadiahi kue khas ala mereka. Itu adalah cara dan budaya lokal masing-masing.
Harapan dari pelaksanaan moled yang utama untuk meneladani kehidupan sang rasul yang diperingati hari kelahirannya setiap tahun juga tak jarang digilas oleh kemeriahan pesta. Perayaan yang dibuat juga tak jarang melanggar intisari apa yang diajarkan oleh baginda. Tapi itu adalah plus minus sebuah perayaan, apa pun ceritanya masyarakat telah menganggap maulid adalah bagian yang integral dalam kehidupan mereka.
Terlepas dari pro kontra sunnah-bid’ah mengenai khanduri yang satu ini, yang jelas secara turun temurun telah dilaksanakan oleh masyarakat Aceh secara meriah dan terasa ada yang kurang kalau tidak dilakukan.
Semoga rasa cinta dapat di ungkapkan dengan berbagai cara asalkan tidak lupa, bahawa yang paling utama dikerjakan bukanlah memperdebatkan sunah-bid’ah maulidurrasul, akan tetapi sejauh mana kita memahami “pusaka” Rasulullah dalam bentuk “al-Quran dan sunnah” dan menterjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain dari itu, tidaklah patut ungkapan rasa cinta itu menjadi punca hadirnya permusuhan apalagi tidak saling tegur sapa, karena hal ini adalah termasuk yang dibenci oleh Rasulullah, apalagi memutarbalikkan dalil agama untuk membela pendapat masing-masing secara membuta tuli.
Wallahu A’lam

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 19:30 Kategori:

No comments: