Saturday, 17 November 2012

Hijrah Bukan Sekedar Rutinitas

Hijrah Bukan Sekedar Rutinitas » The Globe Journal


Tidak terasa kita telah berada di awal tahun baru 1434 H, ini bermakna risalah yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w umurnya hampir lima belas abad lamanya, umur yang cukup matang untuk sebuah Risalah, akan tetapi belum membuat umatnya sematang umur Risalah yang dibawa Nabinya.
Peristiwa hijrah mengimbas kembali perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya dalam mempertahankan akidah. Siapa yang beriman pada masa itu, maka mereka telah siap dengan segala bentuk cobaan, cemeohan, ejekan, siksaan, embargo sampai godaan grafitasi dengan harta kekayaan serta wanita, akan tetapi itu semua tidak menggoyahkan iman mereka. Segala tawaran dan kemewahan serta pangkat jabatan dijawab dengan tegas oleh Rasulullah: “seandainya matahari diletak ditangan kananku dan bulan di tangan kiriku, sungguh tidak akan kutinggalkan risalah ini”, sebuah sikap yang sangat tegas terhadap godaan kebendaan.
Hal ini berbanding terbalik dengan fenomena yang berlaku di tengah-tengah manusia “yang mengaku umat Muhammad” dewasa ini. Mereka beramai-ramai bersusah payah  mengorbankan segala materi bahkan harga diri untuk menggapai sesuatu yang dianggap “Prestisius”; pangkat, harta, dan sanjungan manusia. Bila ada yang tidak mengikut arus maka siap-siaplah dicap sebagai manusia aneh, mungkin inilah pertanda yang diprediksikan Rasulullah dulu; Islam itu awalnya aneh dan akan menjadi aneh juga pada akhir zaman.
Iman Sebagai motivasi.
Rasulullah dan para sahabat yang pada waktu itu masih dalam hitungan puluhan orang meninggalkan kemapanan kehidupan mereka di Mekkah, meninggalkan harta benda, usaha, bisnis, pekerjaan bahkan keluarga dan sanak saudara menuju Yatsrib yang kemudian dikenal dengan Madinah al-Munawwarah. Tempat baru yang kondisinya masih dalam tataran “harapan” untuk tidak mengatakan spekulatif, belum tentu bisa diwujudkan sebagaimana kemapanan yang telah mereka kecapi di Mekkah.
Perjalanan yang ditempuh bukannya tidak jauh, lebih kurang 450 KM, dengan alat transportasi massal bernama kuda dan unta, tidak ada penunjuk jalan yang namanya GPS, tidak ada tempat singgah mewah, apalagi hotel untuk transit. Infrastruktur jalan yang dilalui pun belum ada aspal yang membentang, apalagi jalan bebas hambatan (toll), semua jalanan adalah padang pasir yang tandus dan terjangan alam yang cukup menantang.
Apa yang membuat mereka sanggup melakukan itu semua? Itulah iman, iman yang telah masuk sampai sanubari mereka yang paling dalam, sehingga ganasnya alam, jauhnya perjalanan, belum menentunya masa depan dan meninggalkan segala kemapanan, dianggap sebagai sebuah pengabdian dan sebagai bagian dalam mengharap ridha Allah. Mereka adalah orang-orang yang sudah faham benar akan makna “sami’na wa atha’na” kami dengar dan kami patuh terhadap perintah Allah. Merekalah yang diabadikan Allah dalam surah al-Baqarah: 218, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharap rahmat Allah, dan Allah maha pengampun dan maha penyayang”.
Makna Hijrah.
Kata Hijrah itu sendiri berasal dari kata ha ja ra, perkataan bahasa Arab ini memiliki arti ta ba ‘ada (saling menjauh) dan al-tarku (meninggalkan). Sedangkan secara istilah, Ibn ‘Allan pengarang Dalil al-Falihin menjelaskan dengan ungkapan mufaraqatu dar al-kufri ila dar al-islam kahufun al-fitnah, meninggalkan negara kafir (tidak dapat menjalankan keyakinan dengan baik) menuju negara Islam untuk menghindari fitnah.
Makna hijrah itu sendiri dapat dilihat dalam dua perspektif; pertama adalah hijrah dalam pengertian perpindahan secara fisik (move atau migration), perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain sebagai mana yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah. Perpindahan secara fisik ini tidak lagi berlaku setelah pembukaan kota Mekkah pada tahun 8 hijrah, dan Rasulullah bersabda: La hijrata ba’da al-fath, tidak ada lagi hijrah setelah pembukaan kota Mekkah.
Perspektif kedua adalah Hijrah dalam pengertian maknawi (esensi), iaitu perpindahan dari suatu perbuatan yang tidak baik menuju perbuatan yang diridhai Allah, sebagaimana disebutkan dalam suatu riwayat: al-muhajiru man hajara ‘an ma naha Allahu ‘anhu, orang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Inilah hijrah yang merupakan kewajiban umat Islam sampai hari kiamat.
Pola ekspresi kebenaran.
Hijrah telah membuka mata kita, bahwa tingkatan keberanian untuk menunjukkan keimanan adalah berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain, hal ini ditunjukkan dalam cara berhijrah.
Kebanyakan para sahabat berhijrah tidak secara terang-terangan. Fakta ini terbalik dengan sikap Umar bin Khattab yang keluar di tengah siang bolong dan dengan suara lantang memberikan peringatan sekali gus tantangan kepada kaum musyrikin “siapa yang mahu ibunya kehilangan anaknya atau anaknya menjadi yatim atau isterinya menjadi janda, maka hadanglah aku diseberang lembah ini!”, sebuah sikap keberanian yang tiada tara, menantang mayoritas dan status quo, sikap Umar ini adalah sebuah anti klimaks karena tidak ada seorang pun yang berani menyahut tantangan Umar.
Fenomena ini menunjukkan keragaman cara mengekspresikan kebenaran, dan itu semua tidak pernah dibantah oleh Rasulullah, maka apa pun caranya, kebenaran yang diekspresikan asalkan tetap dalam koridor keimanan, sangatlah wajar untuk dihormati.
Perseteruan antara iman vs godaan
Hijrah mengajarkan kita bahawa ada perseteruan abadi antara kejahatan dengan kebaikan, antara kebenaran dengan kebatilan, antara kezaliman dan keadilan, antara penindasan dan kasih sayang, antara kemungkaran dengan kemakrufan, maka adalah hal yang tidak masuk akal kalau ingin “mengawinkan” antara kebenaran dengan kebatilan, mencampur adukkan antara yang haq dengan yang batil, antara keimanan dengan syirik, antara tauhid dan faham kebendaan apalagi menyamakan semua keyakinan!.
Orang beriman harus menentukan pilihan, ketika menyatakan keimanannya harus dengan totalitas meninggalkan segala kemusyrikan dan penuhanan segala yang selain Allah. Tidak ada “poros tengah” antara yang hak dan batil, garis demarkasinya sangat jelas, al-Haqqu min rabbika fa takunanna minal mumtarin, sesungguhnya kebenaran (haqq) adalah dari tuhanmu, maka janganlah kamu sekali-kali menjadi orang yang ragu-ragu (al-Baqarah:147). Al-halalu bayyinun wal haramu bayyinun, perkara halal sangatlah jelas dan yang harampun telah dijelaskan.
Bersihkan Niat
Untuk menghayati nilai-nilai hijrah, Rasulullah memberikan guideline melalui sabdanya: faman kana hijratuhu ila Allah wa rasulihi fahijratuhu ila Allah warasulihi, faman kanat hijratuhu lidun-ya yushibuha aw imratan yankihuha, fahijtaruhu ila ma hajara ilaihi (HR. Bukahri Muslim). “Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya adalah karena Allah dan Rasul-Nya, barang siapa yang berhijrah karena mengharapkan maslahat duniawi atau karena perempuan, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dinginkan.”
Dengan demikian, hijrah adalah transformasi perilaku dari yang tidak baik kepada yang lebih baik dengan niat “demi” ridha Allah. Transformasi bukan hanya pada tahap tataran konsep, akan tetapi harus di aplikasikan dalam kehidupan nyata. Politikus harus berhijrah dari hanya sekedar “voter getting” dan mewakili kelompok kepada mewakili kebenaran walaupun bukan berasal dari kelompoknya. Legislatif berhijrah dari hanya sekedar disebut “terhormat” dan mengatur anggaran demi kepentingan peribadi dan kelompok kepada benar-benar “terhormat” untuk menyejahterakan rakyat, eksekutif berhijrah dari sikap dilayani kepada melayani, golongan profesional berhijrah dari sikap bekerja hanya untuk memenuhi absensi dan kejar materi kepada sikap yang penuh dedikasi dan etika profesi, ulama berhijrah dari saling menghujat dan mentafsirkan ayat-ayat tuhan sesuai dengan kepentingan kepada pengajaran yang penuh keikhlasan untuk mendidik generasi bangsa tanpa kepentingan peribadi. Para bandar dan pecandu narkoba berhijrah dari merusak generasi dan diri sendiri untuk menjadi manusia sejati, bukan manusia yang hidup dalam bayang-bayang halusinasi.
Lalu kenapa itu semua belum terjadi? Mungkin kita belum faham secara benar esensi dari makna hijrah itu sendiri! Karena Hijrah dalam pemahaman kita hanya sebatas pengulangan rutinitas tahunan, sebatas rutinitas perayaan pawai ta’aruf dengan keragaman karnavalnya, sebatas ceramah agama secara massal sekitar 1 sampai 3 jam dengan segala lelucon didalamnya, dan yang lebih ditunggu-tunggu adalah pada tanggal 1 Hijriah ada liburan umum, berarti tidak bekerja dan dapat santai bersama keluarga, hanya itu.!
Selamat tahun baru hijriah 1434, dan selamat berhijrah.

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 17:06 Kategori:

1 comment:

Unknown said...


Hi terrific website! Does running a blog such as this require a lot of work? I have absolutely no understanding of coding however I had been hoping to start my own blog soon. Anyways, should you have any ideas or techniques for new blog owners please share. I know this is off topic nevertheless I just needed to ask. Many thanks! gmail login email