Saturday, 10 November 2012

Al-Quran dan Manusia Aceh

Al-Quran dan Manusia Aceh » The Globe Journal


Dalam beberapa hari ini setidaknya ada beberapa peristiwa yang berhubungan dengan al-Quran di Aceh, dari gebrakan BABM (Beut al-Quran Ba’da Magrib) di Aceh Besar, Protes Ulama terhadap “kesalahan” salah satu cetakan mushaf terjemahan yang beredar, sampai reaksi pro kontra pengesahan Qanun Wali Nanggroe yang tidak memasukkan syarat mampu baca al-Quran sebagai salah satu syarat untuk menjadi WN.
Khusus untuk peristiwa yang terakhir menuai berbagai reaksi, karena dianggap “kontroversi”, setidaknya bagi logika ke Acehan sekarang.
Berbagai reaksi pun muncul, baik dari peribadi mahupun institusi. Di lain pihak ada juga yang memberikan argumen kenapa syarat itu tidak dimasukkan. Argumen yang terkesan membela diripun tidak luput dari kritikan pedas. Saling dukung dan bela pun bermunculan, hal ini biasa karena bela membela adalah adat dalam politik. Namun demikian, apa pun komentar dan pendapat mestilah diapresiasi dalam atmosfir kebebasan dan saling menghargai. Perbedaan pendapat tidak sepatutnya menimbulkan friksi baru sehingga mengganggu proses pensejahteraan masyarakat.
Telepas dari pro kontra isi Qanun Wali Nanggroe dengan tidak ada syarat baca al-Quran dan gerakan BABM di Aceh Rayeuk yang patut dicontohi, saya terkesima ketika membaca sebuah tamsilan yang dibuat oleh Rasulullah mengenai tipe manusia dalam berinteraksi dengan al-Quran.
Tamsilan yang dibuat oleh Rasulullah setidaknya menggambarkan suasana kehidupan masyarakat Aceh saat ini, dan dapat dijadikan bahan introspeksi diri untuk melihat tipe mana kita digolongkan oleh Rasulullah s.a.w.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari, Muslim, Abu daud, Tirmizi dan Nasa’I dari Abi Musa al-Asy’ari, Rasulullah mentamsilkan kedekatan hubungan seseorang dengan al-Quran dengan empat tipe.
Tipe pertama ditamsilkan oleh rasulullah dengan buah “al-Utrujah”, buah ini digambarkan sebagai buah-buahan yang memiliki bau harum semerbak dan memiliki rasa yang sangat enak dan lazat untuk dimakan.  Tamsilan ini diberikan kepada orang yang beriman dan selalu membaca al-Quran dan faham akan segala makna yang terkandung di dalamnya serta mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Tipe kedua ditamsilkan dengan buah kurma, buah-buahan khas Arab yang kaya nutrisi dan sangat manis rasanya, akan tetapi tidak memiliki bau yang semerbak, ini adalah perumpamaan bagi orang beriman yang tidak membaca al-Quran, ia percaya dan yakin dengan pesan-pesan yang ada dalam al-Quran bahkan mengamalkannya, akan tetapi tidak membaca al-Quran.
Tipe ketiga adalah prototype manusia “mengaku-ngaku Islam” padahal hatinya tidak Islam, akan tetapi ia membaca al-Quran, golongan ini di umpakan Rasulullah dengan minyak wangi “parfume” atau “minyeuk preit” dalam istilah ureung awai, memiliki bau harum semerbak akan tetapi rasanya sangatlah pahit. Inilah golongan “Islam KTP” atau yang lebih tegas lagi “munafik”,  Islamnya hanya sebatas identitas di kartu tanda penduduk akan tetapi tidak pernah menjalankan apa yang diajarkan islam.
Tipe keempat adalah orang yang mengaku Islam, atau “Islam KTP” yang tidak pernah membaca al-Quran, golongan ini diumpamakan dengan buah “handhalah”, buah yang sangat pahit rasanya dan tidak memiliki bau sama sekali, buah ini mungkin dalam bahasa Aceh dekat dengan karakteristik  boh janeng”, buah-buahan yang tidak memiliki bau dan membuat gatal bagi yang memakannya.
Interaksi masyarakat kita dengan al-Quran kebanyakannya hanya sebatas usia sekolahan dari TK sampai Sekolah Menengah Pertama, selepas sekolah Menengah Pertama kebanyakan agak jarang membaca al-Quran, Kecuali ada ritual atau seremonial tertentu yang memang mengharuskan bacaan al-Quran. Apakah itu kematian, khenduri, pembukaan acara, sebelum ujian atau untuk mengatasi jin bila terjadi kesurupan massal, atau bahkan sebagai syarat untuk menduduki jabatan tertentu.
Berbagai-bagai alasan diberikan bagi yang tidak sempat membaca al-Quran. Dari sibuk sampai alasan gengsi dan marwah. Alasan yang paling sering adalah tidak punya waktu, padahal  selalu ada waktu berjam-jam untuk duduk di warung kopi, punya waktu berjam-jam untuk berinteraksi di laman sosial, memiliki banyak waktu untuk memikirkan bisnis, politik dan lain sebagainya, akan tetapi susah sekali mencari waktu untuk membaca walau satu halaman al-Quran pun atau satu “ain” al-Quran.
Belum lagi alasan kalau baca al-Quran akan menjatuhkan marwah, bukankah marwah kita Allah yang tinggikan? Kenapa mesti takut dengan anggapan makhluk Allah?
Berlandaskan hadits ini, pertanyaannya adalah: kira-kira di tipe manakah kita berada? tipe Utrujah kah? Atau tipe kurma? Atau tipe minyak wangi? Atau bahkan mungkin kita dalam golongan tipe “handhalah” alias “boh janeng”?.wal-‘iyazu billah.
Setelah tahu tipe dan tingkatan mana kita berada, pertanyaan berikutnya adalah: pemimpin yang bagaimanakah yang kita cari untuk menjadi pemimpin kita? Mudah-mudahan bukan tipe “handhalah” sebagaimana ditamsilkan Rasulullah.
Apa pun keadaannya, al-Quran tetaplah petunjuk bagi “kita” (orang yang beriman), tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan, bukankah Allah maha pengampun dan Rasulullah beristighfar lebih 70 kali sehari?, lalu bagaimana dengan kita?

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 13:47 Kategori:

No comments: