Thursday, 25 October 2012

Relasi antara korban dengan Qurban



Kata-kata korban dan Qurban selalu digunakan secara bergantian tanpa diperhatikan esensi dari makna kedua kalimat tersebut secara teliti. Apalagi menjelang hari raya idul Adha yang juga disebut dengan hari raya Qurban, kata-kata ini semakin sering terdengar. Sekilas pandang korban dan Qurban memang tidak ada bezanya, korban berarti memberikan sesuatu yang di cintai atau mengorbankan sesuatu, apakah itu benda, waktu bahkan perasaan. Orang yang rela berusaha, berbuat dan berjuang untuk sesuatu yang di inginkan disebut orang yang rela berkorban. Namun orang yang pasrah dengan keadaan dan tidak mahu berusaha dan bekerja keras walau ada keinginan untuk mendapat sesuatu, dinamakan dengan orang yang tidak mahu berkorban. Untuk lulus ujian, orang rela bergadang, mengurangi waktu bermain dan sebagainya, adalah orang yang berkorban untuk satu tujuan nilai kelulusan yang baik. Seorang lelaki yang rela melakukan apa saja untuk menaklukkan hati sang pujaan dinamakan lelaki yang rela berkorban demi cintanya, demikian juga dengan perempuan yang rela melakukan apa saja demi mencintai dan dicintai adalah perempuan pejuang yang penuh pengorbanan. Kata korban juga digunakan untuk suatu objek, seperti korban kekerasan, artinya objek kekerasan, korban penipuan, bererti orang yang kena tipu dan korban-korban lainnya. Ketika Aceh masih dalam status daerah konflik, kata ini dalam bahasa Aceh disebut “kurubeun” untuk menunjukkan kepada korban kekerasan.
Hal ini berbanding dengan kata Qurban sering ditulis “kurban”, walaupun kedengarannya hampir sama dengan kata “korban”, namun kata yang berasal dari bahasa Arab ini mempunyai pengertian yang berbeda. Qurban yang berasal dari kata Qaraba bermakna dekat, bila dilihat sebagai masdar maka dapat diartikan sebagai “pendekatan” atau usaha untuk mendekati.
Antara korban (baca: pengorbanan) dengan Qurban yang bermakna “pendekatan” memiliki hubungan yang sangat rapat, lihatlah bagaimana pengorbanan yang dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim yang dikenal dengan “Abu al-Ambiya” (bapaknya para Nabi), dan puteranya Nabi Ismail alaihissalam dalam usaha mereka untuk “qurban” mendekatkan diri kepada Allah s.w.t.
Dapat dilihat bagaimana pengorbanan seorang ayah yang rela untuk menyembelih putera tersayang sebiji mata wayang untuk ber “qurban”  demi melaksanakan perintah Allah. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam surah al-shaffat ayat: 102-109. “Nabi Ibrahim berkata kepada nabi Ismail: “wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu?, Nabi Ismail menjawab dengan penuh keyakinan “wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Kemudian Allah melanjutkan: “tatkala keduanya telah berserah diri (tunduk pada perintah Allah), dan Ibrahim membaringkan anaknya (pelipisnya menempel di atas tempat penyembelihan), Kami segera memanggil (dari arah gunung): Wahai Ibrahim, sudah engkau benarkan (dan kau laksanakan) apa yang engkau lihat dalam mimpimu itu, sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan (kepadamu) dan juga kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh (perintah penyembelihan itu) adalah benar-benar ujian (bagi Ibrahim, di mana dengannya terlihat dengan jelas siapa yang ikhlas dan siapa yang tidak). Dan Kami segera menggantikan anak (yang akan disembelih itu) dengan seekor sembelihan yang besar. Pun Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian. Salam sejahtera (dari Kami) buat Ibrahim, dan sebutan yang baik baginya (dari setiap manusia).
Sungguh dialog yang luar biasa antara seorang ayah yang bertaqwa dengan anak yang patuh kepada orang tua dan yakin yang ajaran tuhannya.
Peristiwa ini diabadikan sebagai salah satu prosesi ibadah rutin tahunan bagi umat Islam yang sangat digalakkan untuk dikerjakan setiap perayaan hari raya idul Adha dilakukan, bahkan rasulullah mengancam orang-orang yang mampu tapi tidak melaksanakannya lewat sabda baginda, “Barang siapa yang memiliki kemampuan tetapi dia tidak mahu berqurban, maka jangan sekali-kali dia mendekati tempat shalat kami” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah)
Ancaman yang sangat keras “tidak boleh mendekati tempat shalat kaum Muslimin” bermakna di kucilkan dari kebersamaan dengan umat Islam sebagaimana ia mengucilkan umat Islam dari rezeki yang Allah singgahkan kepadanya, atau dengan lebih ekstrem dapat dikatakan “tidak dianggap umat oleh nabi s.a.w”.
Demikian dekatnya relasi antara pengorbanan dengan qurban sebagai usaha mendekatkan diri kepada sang Khaliq. Pengorbanan yang diberikan oleh nabi Ibrahim Alaihissalam untuk melaksanakan perintah Allah tidak menimbulkan kerugian baginya, Bahkan Allah menggantikan putera yang hendak di “korbankan” sebagai “Qurban” dengan seekor domba yang melambangkan bahawa Allah sama sekali tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang ikhlas berbuat. Keikhlasan Ibrahim ber “Qurban”, Allah sanjung dan tinggikan derajatnya dengan gelar sebagai muhsiniin.
Dari kisah ini dapat dilihat bagaimana pe"ngorban"an Nabiyullah Ibrahim alaihissalam dan puteranya Ismail untuk melakukan pendekatan "qurban" kepada Allah. Maka dari itu, tidak ada sesuatupun akan didapat dengan mudah dan begitu saja, semakin berharga yang diinginkan semakin besar pengorbanan yang harus diberikan. Ketika pengorbanan dilakukan dengan tulus dan ikhlas, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan orang yang beriman.
Maka...Jangan segan-segan ber"korban" untuk ber"qurban…"

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 08:14 Kategori:

No comments: