Wednesday, 31 October 2012

Menakar Kemabruran Haji

Menakar Kemabruran Haji » The Globe Journal




Setelah melaksanakan rangkaian prosesi ibadah haji di tanah suci Mekkah, dalam beberapa hari ini, para Jemaah haji dari seluruh pelosok dunia termasuk dari Aceh mulai meninggalkan tanah suci Mekkah menuju kampung halaman masing-masing, pergi meninggalkan status “tamu Allah” dengan segala kenangan dan penempaan spiritual selama musim haji.
Haji merupakan salah satu pilar Islam, karena Rasulullah bersabda: Islam dibina atas dasar lima pilar, salah satunya adalah melaksanakan ibadah haji bagi yang berkemampuan. Orang yang telah melaksanakan ibadah haji bermakna telah membereskan “tiang-tiang” penyangga rumah spritualnya, tinggal saja menjaga supaya tiang-tiang tersebut tidak keropos dimakan rayap-rayap kemungkaran dan godaan syaitan serta bagaimana mendekornya dengan berbagai asesoris akhlak dan budi pekerti.
Haji mabrur sama dengan syurga
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah s.a.w bersabda mengenai reward yang akan diterima oleh orang yang mendapat haji mabrur. Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda: satu umrah (hingga ke) umrah yang lain merupakan penghapus dosa yang dilakukan di antara keduanya. Adapun haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain syurga. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Apakah semua dosa bisa terhapus? Kebanyakan ulama berpandangan bahwa dosa yang terhapus adalah dosa-dosa kecil selain dosa syirik, menyekutukan Allah dengan segala sesuatu selain-Nya. Hal ini disampaikan oleh imam ibn Abd al-Barr. Pengkhususan dengan dosa-dosa kecil juga dapat dilihat dalam penjelasan hadis berkenaan dengan keutamaan shalat jum’at, dimana, antara satu jum’at dengan jum’at berikutnya akan menghapus dosa di antara keduanya, sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Tuhfatu al-Ahwazi Syarah Sunan Tirmizi. Sementara dosa besar mestilah dengan taubat Nasuha, hal ini ditegaskan oleh ayat 31 surah al-Nisa: “jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, Niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (syurga).”
Sebuah reward luar biasa yang dijanjikan Allah s.w.t bagi yang mendapat haji mabrur, maknanya apa? Bahawa sekembalinya dari tanah suci, para “hujjaj” harus memiliki sifat penghuni syurga, hidupnya penuh kasih sayang, suka memberi, tidak suka menyakiti, pemaaf, tidak cepat spaning dan memendam amarah, tidak suka mencibir, menohok hak orang lain apalagi memanipulasi dan merampas hak-hak rakyat untuk memperkaya diri dan kroni. Ahli syurga adalah orang yang qana’ah, orang yang merasa cukup dengan apa yang telah Allah anugerahkan.
Kembali menjadi “Ibadurrahman”
Para hujjaj yang kembali ke tanah air, mereka telah melepaskan status “Dhuyufurrahman” ,tetamu Allah dan kembali menjadi “Ibadurrahman”, hamba Allah.
Karakteristik hamba Allah sebagaimana ditegaskan Al-Quran: mereka adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan dengan penuh tawadhu’, jika berbicara dengan orang lain selalu berkata-kata baik, selalu menjadikan ibadah kepada Allah sebagai manifestasi dalam segala aktifitas keseharian, mereka adalah orang-orang yang selalu bermunajat supaya Allah jauhkan dari perbuatan-perbuatan yang dapat menyebabkan mereka dimasukkan ke dalam api neraka.
Ibadurrahman adalah orang-orang yang selalu membelanjakan hartanya secara terukur, tidak mubazir dan tidak pula pelit kedekut. Mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun dan tidak menyakiti apalagi menghancurkan kehidupan manusia lain. Ibadurrahman tidak berkata-kata bohong, apabila melihat hal-hal yang melalaikan mereka tidak larut di dalamnya. Mereka adalah orang yang selalu merenung jika dibacakan ayat-ayat tuhannya. Mereka adalah orang yang selalu menyiapkan generasi penerus yang berkualitas dengan usaha dan do’a.
Itulah karakteristik hamba Allah “ibadurrahman”yang disarikan dari ayat 63-74 surah al-Furqan yang mesti ditunjukkan oleh para hujjaj sekembalinya dari status dhuyufurrahman.
Indikator Kemabruran
Imam an-Nawawi rahimahullah memberikan indikator tanda-tanda orang yang mendapat haji mambrur, mereka adalah orang yang sikap, tingkah laku serta peribadinya berubah lebih baik dari sebelum ia melaksanakan ibadah haji, serta tidak lagi mengulangi perbuatan maksiat yang pernah ia lakukan sebelumnya.
Sebuah indicator yang sangat sederhana, simpel dan bersahaja, akan tetapi memiliki makna yang cukup dalam. Bermakna orang yang mendapat haji mabrur adalah orang-orang yang mengalami perubahan spiritual yang luar biasa jika dibandingkan dengan keadaannya sebelum menunaikan ibadah haji. Bukan sekedar perubahan nama dengan penambahan embel-embel “H” di bahagian depan nama, akan tetapi perubahan keperibadian yang mendasar “change the personality”.
Keterangan Imam an-Nawawi dipertegas oleh imam Hasan al-Basri, beliau menegaskan bahawa orang yang hajinya mabrur dapat dilihat dari sikapnya yang lebih zuhud terhadap hal-hal keduniaan dan lebih bersungguh-sungguh dalam beribadat sekembalinya dari menunaikan ibadah haji. Implementasi secara sosial berwujud dalam sikap baiknya kepada masyarakat sekitar dalam tutur kata yang lemah lembut dan sopan santun serta selalu menghulurkan bantuan kepada siapa pun yang memerlukan.
Pertanyaannya, seberapa nampak perubahan spiritual pada masyarakat kita sekembali dari tanah suci? Maka itulah cerminan kemabruran hajinya. Ini tidak bermaksud menghujat apalagi men ”judge”, akan tetapi realita dalam kehidupan menunjukkan sikap para haji yang belum begitu menggembirakan.
Semoga ini menjadi renungan bagi yang pernah berhaji dan selaku ucapan selamat datang bagi jemaah haji yang baru tiba di tanah air, teriring do’a “hajjan mabruuran wa sa’yan masykuuran, wa zanban maghfuuran wa tijaaratan lan tabuur”, semoga hajimu mabrur, Sa’imu diterima, dosamu diampuni dan rezeki yang dicari tidak pernah merugi, amien.
Wallahu a’lam.

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 22:13 Kategori:

No comments: