Thursday, 6 September 2012

Damai Ala Rasulullah



Lima tahun sebelum turun wahyu pertama, terjadi banjir besar di Mekkah yang mengakibatkan Ka’bah hampir rubuh. Melihat kejadian tersebut, penduduk Mekkah waktu itu yang dipelopori kaum Quraisy sepakat untuk melakukan renovasi.
Hal yang menarik, dalam merenovasi ka’bah mereka sepakat tidak diperbolehkan menggunakan  uang yang tidak jelas asal usulnya alias uang haram atau “peng seuum”, tidak boleh menyumbang dari uang hasil riba, uang hasil menzalimi orang lain ataupun uang dari hasil prostitusi.  Hal ini menarik karena waktu itu praktek-praktek mesum, riba dan menzalimi marak terjadi, tapi ternyata dalam kehidupan mereka masih ada yang disakralkan, untuk suatu yang sakral harus menggunakan hal yang baik-baik, sejahiliyah apapun kehidupan waktu itu, nilai moral masih merupakan hal bermakna dalam kehidupan mereka.
Karena ka’bah merupakan bangunan yang sakral, penduduk Mekkah merasa takut untuk merobohkannya, takut kualat dan kenapa-napa atau dalam bahasa aceh disebut “temeureka”. lalu ada seorang yang ernama al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumy yang memberanikan diri untuk memulai perobohan Ka’bah untuk direnovasi, setelah orang-orang melihat al-Walid tidak kenapa-napa baru mereka berani untuk secara bersama-sama merobohkan ka’bah. Setelah selesai perobohan mulailah tahap pembangunan, setiap Qabilah bertanggung jawab menyediakan material untuk satu sudut dari empat sudut bagian ka’bah yang pekerjaannya dilaksanakan dan diawasi oleh seorang kepala tukang berkebangsaan Romawi yang bernama Bakum, Sampai disini belum ada permasaalahan yang berarti.
Masalah dan konflik mulai timbul pada  waktu ingin meletakkan kembali hajarul aswad, masalahnya siapa yang berhak meletakkannya, masalah kemuliaan dan merasa paling berhak “mee-ung” menjadi punca konflik yang membawa ketegangan yang nyaris pecah perang antar qabilah. Perang dalam kehidupan mereka bukanlah barang langka dan susah dijumpai, perang merupakan hal yang sangat akrab, biasa dan lumrah terjadi bahkan sudah menjadi bagian dari karakter masyarakat waktu itu, perang sering sekali dipicu oleh hal-hal kecil dan sepele, Karakter ini hamper sama dengan karakter ureung Aceh, “bagah di caih”.
Melihat situasi semakin genting, Abu Umayyah bin Mughirah al-Makhzumi berinisiatif mengusulkan sebuah resolusi untuk menyelesaikan masaalah ini dengan usulan mencari serta memberikan kepercayaan kepada pihak ketiga yang dalam tataran praktisnya adalah  orang yang pertama datang ke masjidil haram besok pagi, usul ini diterima. Allah menghendaki bahwa manusia pertama datang ke mesjid esok harinya adalah Muhammad (S. A. W), ketika melihat Muhammad (S. A. W) semua merasa gembira dan bertepuk tangan, inilah Muhammad si manusia bersih (baca: al-amin), kami setuju dengannya sergah mereka ramai-ramai.
Setelah mendengar apa permasalahan yang mereka hadapi, Muhammadpun meminta sehelai kain, lalu diatas kain tersebut diletakkan hajarul aswad, kemudian setiap qabilah memegang ujung kain dan secara bersamaan mengangkatnya, begitu sampai di tempat yang ingin diletakkan, baliau mengangkat hajarul aswad dengan tangannya, penyelesaian cara seperti ini diterima oleh semua pihak tanpa ada yang merasa dirugikan, dilecehkan apa lagi di eksploitasi.
Sekilas cerita ini datar saja dan telah didengar sejak manusia mengenal sirah nabawiyah, namun cerita datar ini didalamnya terkandung beberapa nilai penyelesaian konflik yang dapat diambil untuk merawat perdamaian di bumoe indatu:
Damai tidak terjadi begitu saja
Konflik, apapun bentuk dan namanya tidak akan berakhir dengan sendirinya, damai perlu diprakarsai dan perlu ada inisiator, karena segala sesuatu tidak terjadi secara sim sa la bim. Inisiator tidak perlu takut Kualat “temeureka” dalam memprakarsai perdamaian karena indatu tidak pernah marah kepada orang yang berbuat baik. Tidak perlu takut sebagaimana takutnya orang quraisy merobohkan ka’bah. Keberanian inisiator saja, tidak cukup untuk merajut damai kecuali para pihak sepakat untuk mengakhiri perseteruan diantara mereka, maka disini good will yang merupakan niat tulus ikhlas mutlak sebagai Starting point dalam sebuah perdamaian seperti ditunjukkan oleh qabilah yang telah bersiteru dalam mempertahankan ego sentries masing-masing.
Dalam teori resolusi konflik, konflik dapat diselesaikan dengan berbagai cara; bisa dengan cara mediasi, negosiasi, arbitrase maupun legitasi. Kebanyakan cara penyelesaian konflik sering bermuara kepada adanya pihak lain yang sama-sama dipercayai untuk menengahi atau memediasi atau bahkan mengadili yang secara gamblangnya sebagai penengah diantara para pihak yang bertikai. Pihak ketiga ini penting karena dialah jembatan dalam  mengakomodir kepentingan pihak yang bertikai. Penengah yang adil apapun namanya; mediator atau arbitrator merupakan sosok harapan bagi terbukanya jalan kedamaian sebagaimana harapan para qabilah pada sosok Muhammad yang dikenal mempunyai integritas kepribadian yang tinggi.
Kesabaran
Damai tidak mungkin bertahan atau dipertahankan kalau tidak adanya kesabaran, kesabaran para pihak yang bertikai ataupun kesabaran penengah bahkan public merupakan kunci dalam penyelesaian pertikaian. Setiap konflik apalagi konflik berkepanjangan pasti memiliki dampak yang tidak secara mudah dapat dieliminir. Dalam kisah diatas dapat dikesan bagiamana sabarnya Nabi Muhammad dalam mendengar permasaalahan yang terjadi diantara para pihak yang bertikai, katena tidak jarang, perselisihan disebabkan oleh pendapat dan keinginan suatu kelompok “heut” tidak terperhatikan, maka perhatian dalam bentuk mendengar aspirasi mutlak diperlukan sebelum terapi penyelesaian diberikan. Kisah di atas juga menunjukkan bagaimana sabarnya para pihak menunggu sosok yang pertama masuk masjid  serta sabarnya mereka mengikuti usaha yang dilakukan Muhammad S. A. W. Keinginan kuat penengah saja tanpa ada niat tulus para pihak yang bertikai tidak dapat menyelesaikan konflik secara komprehensif.
Damai bermartabat
Damai yang diprakarsai oleh Nabi Muhammad adalah damai yang memartabatkan semua pihak, semua diikutsertakan dalam proses penyelesaian masalah, tanpa mengurangi hak-hak mereka apa lagi merasa dirugikan atau dalam istilah sekarang dikenal dengan win-win solution (solusi menang-menang) dimana semua pihak merasa menang atau dimenangkan. Nabi Muhammad tidak menggunakan prinsip win-lose (menang-kalah) apalagi lose-lose (kalah-kalah) yang dalam bahasa filososi Aceh dikenal dengan “menyo ke lon hana ke gob pih bek na” atau “nibak singet get meruah”. Hal ini tercermin dalam proses pengangkatan Hajar aswad dimana semua pihak merasa dihargai dan tidak ada martabatnya yang dilecehkan.
Daya fikir kreatif
Penyelesaian konflik memerlukan kekayaan kreatifitas daya fikir dalam memberikan solusi yang dapat diterima semua pihak dan tidak merendahkan apalagi menzalimi salah satu pihak. Kreatifnya Muhammad dalam menggunakan sehelai kain untuk menampung semua keinginan dan ego sentris para pihak yang bertikai merupakan suatu kearifan yang perlu dijadikan filosofy dalam menyelesaikan segala konflik yang terjadi di Bumoe lhee sagoenyo. Dameilah nanggroe lon!

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 13:25 Kategori:

No comments: