Saturday, 14 July 2012

MEMBACA PIDATO POLITIK SANG KHALIFAH UNTUK ACEH

Setelah rasulullah wafat terjadi situasi politik yang sedikit berkecamuk dikalangan para sahabat dalam menentukan keputusan siapa pemimpin penerus perjuangan Rasulullah s.a.w. Perdebatan sengit membuat lahirnya beberapa “blok” atau dukung-mendukung “calon” tertentu untuk menjadi K1 (baca: khalifah pertama). Egoeisme sektarian dan fanatisme kesukuan mencuat, Kaum Muhajirin menganggap lebih berhak untuk memimpin, di lain pihak Kaum Anshar juga merasa punya hak yang sama bahkan lebih untuk menjadi K1. Perdebatan ini dicatat dengan rapi dalam sejarah Islam. Singkat cerita, setelah perdebatan dengan argumen masing-masing akhirnya terpilihlah Abu Bakar yang bergelar al-Siddiq sebagai khalifah pertama secara damai dan aklamasi.

Pidato politik pertama Khalifah
Setelah pembai’atan dilakukan oleh publik, Khalifah pertama umat Islam, Abu Bakar al-Siddiq menyampaikan sebuah pidato politik yang sangat indah dan menggambarkan secara umum komitmen policy (kebijakan) politik yang akan dijalankan oleh pemerintahannya.
Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah, setelah memuji Allah Abu Bakar berkata: Aku telah dipilih untuk menjadi pemimpin kalian dan aku bukanlah yang terbaik di antara kalian, jika aku berbuat baik maka bantulah aku, jika aku tersalah maka tolong lah perbaiki  aku, berkata benar adalah sebuah amanah dan berbohong adalah sebuah pengkhianatan, orang yang lemah di antara kamu adalah kuat dalam pandangan ku dengan memberi hak-hak mereka, orang-orang kuat adalah lemah dalam pandangan ku sehingga aku dapat mengambil hak orang lain daripadanya insya Allah, jika suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah maka Allah akan menimpakan kelemahan dan kehinaan kepada mereka, jika perbuatan keji telah meraja lela dalam suatu umat maka Allah akan menurunkan kepada mereka bala, taatlah kepada ku selama aku taat kepada Allah, jika aku berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak wajib taat kepada ku, Bangun dan bersegera lah untuk melaksanakan shalat sehingga Allah memberi rahmat kepadamu.
Itulah manifesto politik yang merupakan kebijakan dan kerangka kerja yang diumumkan oleh khalifah pertama umat Islam sejurus pelantikannya sebagai Khalifah, cukup jelas, tegas, sarat nilai spiritualitas dan menyentuh segala aspek dasar  kehidupan masyarakat.

Tawadhu dan integritas diri
Penggal pertama pidatonya diawali dengan sikap tawadhu serta merendah diri. Tawadhu ini merupakan sifat utama seorang mukmin (lebih lanjut baca akhir surah al-Furqan). Abu Bakar secara terbuka mengakui bahawa beliau bukanlah orang yang terbaik di antara para sahabat pada waktu itu, karena tidak selalunya yang terbaik yang terpilih, akan tetapi yang terpilih itulah yang terbaik, walaupun menurut beliau bukanlah yang terbaik akan tetapi pilihan telah dibuat dan kepercayaan telah diberikan kepadanya. Pengakuan beliau adalah suatu bentuk tawadhu (merendah diri) di mana semua orang tahu bahwa beliau adalah “soul mate” atau orang yang paling dekat dengan rasulullah semenjak dari Mekkah sampai di Madinah, namun demikian beliau tidak pernah menganggap beliaulah yang paling berhak untuk memimpin.
Dari sikap ini, pemimpin Aceh ke depan hendaklah menampilkan sikap tawadhu dengan mengetepikan ego sentris “meunyoe ken kei kenmenyo ken ie mandum leuhop menyo ken droe mandum goep”. Pemimpin Aceh adalah milik semua rakyat Aceh, walaupun dalam proses pemilihan di usung oleh partai tertentu. Ketika menjadi pemimpin Aceh, dia adalah milik semua rakyat Aceh dan harus memperhatikan semua rakyat Aceh.
Tawadhu tidak berarti “lebay” “leubeot dan loyo” tidak memiliki sikap dan semangat kerja. Akan tetapi substansi dari tawadhu itu adalah, pengakuan bahawa apa yang dimiliki dan diamanahkan merupakan milik Allah untuk “dipeutimang” dan nanti diakhirat akan dimintai pertanggung jawapan selain pertanggung jawapan di dunia.

Barometer yang jelas dan bersikap terbuka
Tidak kalah penting dari yang pertama, sikap politik kedua yang disampaikan secara terbuka adalah  jelasnya barometer yang digunakan dalam menjalankan pemerintahan. Kebenaran dan ketaatan merupakan kata pemisah antara taat dan pembangkangan terhadap pemerintah. Dengan suara lantang Abu Bakar menegaskan bahwa rakyat berhak mengikutinya selama dia berbuat baik dan taat kepada Allah, jika ia menyimpang dari ketaatan maka rakyat tidak perlu mengikutinya. Ungkapan “taatlah kepada ku selama aku taat kepada Allah, jika aku berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak wajib taat kepada ku”, merupakan statement yang sangat tegas terhadap dasar hubungan antara pemerintah dengan rakyat.
Ketaatan yang disampaikan merupakan ketaatan universal meliputi kebaikan dan ketaatan dalam ruang lingkup beribadah kepada Allah (ibadah mahdah) dan kebaikan dalam menjalankan ibadah sosial sesama manusia (hablum minannas) yang didalamnya termasuk berbuat baik dalam menjalankan roda pemerintahan. Kejelasan barometer ini sangat penting sebagai dasar “meneumat” bagi semua masyarakat, sehingga kebenaran itu tidak mengikut hawa nafsu dan kepentingan individu, kelompok mahupun golongan atau tafsiran pribadi. “Meneumat” nya adalah kebenaran dan ketaatan kepada Allah.
Kejelasan prinsip ini juga memberikan ruang kepada publik untuk mengkritik kebijakan yang nantinya dijalankan oleh pemerintah. Keterbukaan menerima kritik dan saran selama masih dalam koridor ketaatan kepada Allah, di mana yang menasehati dan memperbaiki pemerintah juga bukan atas dasar kepentingan individu, kelompok mahupun golongan tetapi semua atas dasar ketaatan kepada Allah. Ini merupakan prinsip yang sangat tegas disampaikan ke publik “jika aku berbuat baik maka bantulah aku, jika aku tersalah maka tolong lah perbaiki  aku”, sehingga hubungan yang akan terjalin antara rakyat dan pemimpin adalah hubungan persaudaraan yang saling ingat mengingati dan nasehat-menasehati berlandaskan prinsip mencari ridha ilahy, bukan aktualisasi diri, kelompok, ego peribadi apalagi balas dendam.

Mengembalikan hak kepada yang berhak
Barometer lain yang digunakan adalah membela hak rakyat yang tertindas, kezaliman yang diperagakan oleh kepongahan manusia akan dihentikan, penindasan akan dihapus, hak-hak orang kecil yang dirampas akan dikembalikan, para durjana dan penebar terror akan dihentikan dan semua akan dihadapkan ke pengadilan. Komitmen ini ditegaskan oleh Abu bakar lewat ungkapannya “orang yang lemah di antara kamu adalah kuat dalam pandangan ku dengan memberi hak-hak mereka, orang-orang kuat adalah lemah dalam pandangan ku sehingga aku dapat mengambil hak orang lain daripadanya insya Allah”. Khalifah benar-benar panglima dan penjamin rasa aman bagi masyarakat, pembela mereka dari rongrongan sikap “premanisme” yang ingin memperkosa rasa keadilan mereka. Orang lemah akan merasa terbela kepentingannya dan orang yang zalim akan terhad syahwatnya. Pemerintah adalah orang tengah “wise man” antara hak orang teraniaya dan nafsu para durjana.      

Trust government dan jihad
“Berkata benar adalah sebuah amanah dan berbohong adalah sebuah pengkhianatan”, satu statement yang sangat tegas disampaikan khalifah dalam pidatonya. Berkata benar adalah jujur, mengungkapkan peristiwa apa adanya, tidak memutarbalikkan fakta, itulah yang difahami oleh rakyat secara sederhana maksud dari kalimat ini. Berkata benar dalam term kenabian disebut dengan “siddiq”, gelar yang diberikan kepada Rasulullah oleh para penyembah berhala sebelum Rasulullah diangkat jadi rasul, juga merupakan salah satu dari sifat nabi. Sifat yang sangat susah ditemui dalam kehidupan umat Nabi saat ini.
Kejujuran pemimpin mestilah dimulai dari dirinya sendiri. Jujur akan kemampuan dan kapabelitas personal, jujur dalam memilih para pembantu, jujur dalam mengelola anggaran, jujur dalam menjalankan semua yang telah dijanjikan kepada masyarakat. Jika pemimpin tidak jujur, berbohong “cakap tak serupa bikin”, maka ia telah berkhianat. Itulah kesimpulan yang dibuat oleh khalifah Abu bakar. Kejujuran dalam pemerintahan dalam tatanan politik bernegara adalah menjalankan pemerintahan yang dapat diukur semua kinerjanya melalui prinsip-prinsip good and clean government.
Jujur saja apakah cukup? Tidak!! Kejujuran harus dibarengi dengan usaha dan kerja keras (jihad). Jihad sering difahami dengan angkat senjata, itu seratus persen benar dan tidak salah, akan tetapi angkat senjata bukanlah satu-satunya cara berjihad. Bila keadaan telah damai maka jihadnya adalah untuk mengisi kedamaian tersebut, berjihad demi menegakkan keadilan, berjihad menghapus kemiskinan, berjihad melawan kebodohan, melawan kemerosotan nilai-nilai agama dalam tatanan masyarakat, melawan pemborosan anggaran, berjihad melawan mafia proyek, berjihad meningkatkan kualitas hidup nyak-nyak yang mencari sesuap nasi dengan menjajakan sayur-mayur di pasar, menolong orang-orang kecil, berjihad melindungi alam anugerah Allah dengan segala isinya, berjihad melawan “nafsu” keinginan peribadi atau kelompok yang selalu cenderung untuk menikmati sendiri dan sebesar mungkin kue pembangunan, berjihad membuka irigasi, berjihad melawan nepotisme dan banyak lagi jihad yang harus dikerjakan, karena hanya dengan jihadlah kita akan berjaya. 

Kekuatan shalat
Shalat adalah tiang agama, mendirikan shalat bermakna menegakkan sendi-sendi agama, tidak melaksanakan shalat artinya menghancurkan agama itu sendiri. Allah menegaskan bahwa shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, tentunya dikerjakan sesuai dengan tuntunan dan penuh keimanan, kalau hanya dikerjakan sebatas melepas kewajipan mungkin efek yang didapat tidak demkian. Dalam surat Taha Allah menjelaskan bahwa generasi yang tidak mengerjakan shalat akan menerima kehinaan. Para pemimpin Islam terdahulu adalah orang-orang yang selalu tampil di saf paling depan melaksanakan shalat. Menjadi panutan bagi masyarakatnya dalam menegakkan tiang agama.
Rakyat Aceh berharap “khalifah” Aceh yang akan dilantik (Doto Zaini-Muzakkir Manaf) dan para “amir” pemimpin wilayah (bupati/walikota) dapat melihat prinsip-prinsip pemerintahan yang dipegang oleh Abu bakar dalam meneruskan perjuangan rasulullah s.a.w.
Semoga Aceh akan lebih baik dalam ridha ilahi, wallahu a’lam

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 08:41 Kategori:

1 comment:

Anonymous said...

mantaaap