Friday, 15 June 2012

Israk Mikraj: Solusi Duka Pelipur Lara


Setiap tanggal 27 Rajab saban tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati sebuah peristiwa penting yang menggemparkan dan membuat heboh masyarakat Arab jahiliyah. Peristiwa tersebut tersebar dengan begitu cepat ke seantero pelosok Tanah Arab, padahal waktu itu belum ada internet, hand phone, stasiun TV, radio, Koran dan berbagai alat komunikasi yang berbasis information communication technology (ICT). Namun kisah besar dalam sejarah kenabian Muhammad s.a.w dengan speed tinggi terakses oleh penduduk jazirah Arab.
Secara logika, ini menunjukkan peristiwa Israk Mikraj adalah peristiwa yang amat penting, aneh, tidak logis dan kisah dusta, Itulah ungkapan yang dilabelkan oleh masyarakat yang tidak beriman dan dedengkot Arab Jahiliyah yang diketuai oleh Abu Jahal. Mana mungkin melakukan perjalanan sejauh itu dari masjidil haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina dalam jangka waktu sepertiga malam sedangkan alat transportasi yang tersedia hanya kuda, unta dan keledai. Muhammad benar-benar pembohong besar, begitulah kira-kira cemeohan yang dialamatkan kepada Rasulllah.
Di sisi lain bagi mereka yang benar-benar beriman ia adalah true story, Kisah Benar yang sukar diterima logika tetapi hanya dapat ditafsirkan melalui media keimanan. Orang yang tanpa fikir panjang mempercayainya adalah Abu Bakar yang kemudian digelar dengan al-Siddiq. Abu Bakar al-Siddiq membenarkan kejadian Isra’ karena berlandaskan keimanan. Dengan media keimanan, israk mikraj tidak terbantahkan karena rasul tidak berjalan sendiri akan tetapi di perjalankan oleh Allah Azza Wajalla; Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS: Al-Isra', 1). Ia merupakan satu perjalanan ilahiyah yang tidak ada bandingannya dalam sejarah peradaban manusia yang menjadi mukjiz (perkara yang tidak terbantah), lambang kebesaran dan kemuliaan Rasulullah SAW.
Peristiwa Isra' dan Mi'raj terjadi pada tahun ke sepuluh kenabian dilatar belakangi oleh peristiwa pilu menyayat hati rasulullah sehingga tahun tersebut dikenal dengan “Tahun Dukacita” yang dalam literature sirah nabawiyah dikenal dengan “amul huzni”. Tragedy yang menimpa rasul sebelum di israk mikrajkan oleh Allah adalah perginya dua orang yang merupakan figure dan penyokong utama dakwah Rasulullah; Khadijah al-kubra sebagai the women behind the man dan Abi Thalib the guarantor (penjaga) dakwah rasul. Kepergian dua pilar utama ini menimbulkan tekanan psikologi bagi Rasulullah ditambah lagi dengan peningkatan tekanan fisik, ekonomi serta boikot sembako dan komunikasi yang dilakukan oleh kaum Quraisy selama 2 tahun sebelum israk mikraj. Keruh dan runyamnya keadaan mendorong Rasulullah untuk Hijrah berpindah ke Thaif dengan harapan mendapat suasana baru dan penduduknya menerima seruan dan bersedia membantu perjuangannya. Malangnya, segala harapan hancur berkecai kerana penduduk Thaif bukan saja tidak mahu memberi perlindungan kepada Nabi, malah Nabi dicaci, dihina dan dianiaya. lalu Allah mengisra' mi'rajkan Rasul-Nya untuk memperteguh keimanan di samping menghiburnya.
secara implisit menjelaskan bahwa, cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah, keduka citaan dan segala himpitan kehidupan duniawi adalah dengan cara mengadu kepada pemilik semua masalah dan penguasa segala jalan keluarnya; Allah SWT. Dalam kesempatan Israk Mikraj, Allah mensyariatkan kepada Rasulullah dan pengikutnya sebuah ibadah yang dapat dikatakan sebagai sambungan langsung bebas hambatan antara seorang hamba dengan-Nya. Sebuah ibadah yang merupakan sarana kontak langsung yang cukup intens paling kurang sebanyak lima kali dalam sehari semalam. Sebuah ibadah yang dijanjikan Allah bagi yang melaksanakannya akan tercegah dari perbuatan keji dan mungkar dan disifatkan Oleh Rasul sebagai tiang dan penyangga Agama, shalat.
Adalah satu tindakan yang kurang tepat atau lebih pas dikatakan salah, sesat dan menyesatkan apabila ada yang beranggapan bahawa cara untuk menghibur diri dari kesedihan adalah melalui hiburan-hiburan malam, berenang dalam kubangan narkoba dan memasung diri dalam perjudian dan segala kemaksiatan lainnya yang dapat menyemai benih-benih ke arah budaya mungkar dan maksiat serta membutakan hati dari etika dan syariat Islam.
peristiwa Isra' dan Mi'raj turut menggambarkan koneksi langsung antara sistem peraturan sang Khalik dan Makhluk. Makhluk tidak boleh bertindak bebas tanpa berpandukan peraturan dan undang-undang dari al-Khaliq. Pendek kata, segala tindak-tanduk manusia sebagai makhluk mestilah mengikut kehendak al-Khaliq baik dari aspek individu, masyarakat, negara, ekonomi, undang-undang dan sebagainya. Ini bermakna sekiranya makhluk itu beriman, patuh dan tunduk kepada Iradah Allah, tidak ada pilihan melainkan tunduk patuh menyerah diri kepada peraturan Allah SWT. "Mengapakah mereka mencari agama selain daripada agama Allah? Walhal segala apa yang ada di langit dan bumi telah menyerahkan diri kepadaNya dengan sukarela dan terpaksa. Dan kepadaNyalah mereka akan dikembalikan" (Ali Imran :83).
Tidak dapat dipungkiri, banyak problem-problem hidup yang dipersepsi dapat ditanggulangi dengan pendekatan hukum, ekonomi, sosial, politik dan budaya, ternyata malah kadangkala mengecewakan dan membuat hidup hampa makna. Dalam kehampaan inilah, momentum Israk Mikraj sebagai wisata spiritual diharapkan dapat memberi perspektif lain dalam menyelesaikan problem-problem keduniaan dan kemanusiaan. Persis sama, Israk Mikraj didahului tahun-tahun duka cita yang mengganggu nabi secara psikis. Wisata spiritual Israk Mikraj ingin menegaskan, bahwa kekuatan, ketabahan, harapan dan tantangan, sedikit banyak dapat ditanggulangi oleh peningkatan spiritualitas. Sekilas terkesan terlalu simbolik. Tapi dalam kasus nabi, Israk Mikraj terbukti menggairahkan, menunjang motivasi, dan lebih dari itu, menumbuhkan perasaan bahwa Tuhan berdekatan dengan hamba-Nya dan mengingat Allah akan membawa ketenangan jiwa sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur'an; (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (ar-Ra’du: 28). Semoga israk mikraj dapat mejadi cerminan dalam menyelesaikan kekalutan hidup.

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 18:37 Kategori:

No comments: