Wednesday, 30 May 2012

SYUKUR DENGAN TIDAK BERSYUKUR



Beberapa hari ini dada media cetak mahupun screen media elektronik diasak oleh berita hasil pengumuman Ujian Nasional. Ada yang satu sekolah lulus semua, alhamdulillah, ada yang sebahagian lulus dan sebahagian belum bernasib baik, namun ada juga yang satu sekolah tidak ada satu pun yang lulus sebagaimana terjadi di salah satu sekolah di Sumatera Utara, Nauzubillah. Nilai tertinggi ternyata berada dalam genggaman Mutiarani, anak yatim yang sekolah di SMKN2 Kota Semarang, seorang siswi pendiam berasal dari Jawa Timur dan ngefans berat dengan Barcelona.
Keberhasilan anak yatim ini disorot begitu saja, seakan bukan hal yang luar biasa, liputan media lebih terfokus kepada berita yang lebih memeranjatkan, gaya selebrasi anak baru gede yang mendapatkan kelulusan UN, tak penting nilainya berapa, urutannya berapa, yang penting lulus dan mereka pun berpesta gembira. Gembira adalah hak asasi manusia dan itu sangat manusiawi, demikian juga sedih juga bukan hal yang dilarang dalam dunia.
Banyak cara mengekspresikan sedih, bisa dengan menangis, menjerit, bahkan juga pingsan! Demikian juga dengan gembira, ada banyak cara melakukan selebrasi untuk mengekspresikannya, ada yang meloncat-loncat, ada yang menangis, ada yang saling berpelukan, ada yang lari-lari bagaikan seorang bocah yang baru dapat mainan baru bahkan juga ada yang pingsan!,
Melirik gaya selebrasi alumni sekolah menengah, ada suatu fenomena yang berlaku dalam beberapa tahun belakangan, mereka mengekspresikan kelulusan dengan mengecat baju almamater dengan gaya grafiti, bukan cuma baju, kadang rambutpun ikut dipilox. Selain corat coret baju, kegembiraan juga diekspresikan dengan berkonvoi secara ramai-ramai di jalan raya. Tak jarang juga kegembiraan ini berakhir dengan tragedi. Sebut saja apa yang terjadi di Temanggung sebagaimana dilaporkan Kompas 27 Mei dengan judul “konvoi membawa celaka, Sutri tewas terlindas”, adalah salah satu kisah pilu dari akhir pesta selebrasi yang salah kaprah.
Banyak hal yang dilakukan oleh pihak sekolah, dari nasehat, peringatan, mengundurkan pengumuman sampai sore hari bahkan dengan menahan ijazah bagi yang melakukan selebrasi sedemikian, nanum hal ini tidak membuat budaya “pungoe” ini terus merajalela dikalangan siswa.
Ini adalah hasil dari sebuah proses panjang penghakisan nilai-nilai murni dalam kahidupan siswa yang baru saja disadari oleh stake holder pendidikan. Pengikisan nilai-nilai agama dan budaya ketimuran yang tenang, tidak berlebihan dan bersahaja dalam mengungkapkan kegembiraan.
Tidak pernah ada kata terlambat untuk merubah gaya ini, orang tua, masyarakat, pemerintah dan tentu saja sekolah sudah saatnya duduk semeja dan bergandeng tangan melakukan peran masing-masing dalam merubah tabiat dan tata cara bersyukur import yang mewabah dikalangan calon penerus peradaban manusia.  

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 08:05 Kategori:

No comments: