Monday, 28 May 2012

Raudhatus Sakinah: Cara Malaysia Mengurus Orang Mati


Di sela-sela Aceh Development international Conference (ADIC 3) yang diselenggarakan oleh rakan-rakan mahasiswa Aceh di International Islamic University Malaysia (IIUM) penghujung bulan maret, saya dan beberapa kawan dosen IAIN Ar-Raniry Banda Aceh; Dr. Mujiburrahman,  Dr. Jasafat, Muslim Zainuddin, MA dipertemukan Allah dengan seorang Sahabat lama Dr. Mujiburrahman, Tuan Haji Musa bin Tuan Haji Ranli yang sekarang menjabat sebagai Chief Assistant Director JAWI, Development Division. JAWI ini bukanlah Jawa atau huruf Jawoe (bahasa melayu dalam aksara arab), JAWI adalah singkatan dari Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (Federal Territory Islamic Affairs Department), lebih kurang kalau ditempat kita Kanwil Kementrian Agama.
Setelah kami dijemput hadir (diundang) ke kantor beliau di Pusat Islam Malaysia, kawasan masjid Negara, Tuan Haji Musa yang merupakan Alumni IAIN Ar-Raniry Banda Aceh ini mengajak kami ke kebun beliau, “saya nak bawa bapak-bapak berkunjung dan tengok-tengok kebun saya, kebun masa depan di daerah Karak”, ucapnya. Kamipun manut-manut saja, dalam benak kami timbul pertanyaan, kira-kira apa yaa yang di tanam dikebunnya?, lagi-lagi dalam pikiran kami terlintas sebuah kebun yang hijau dan dipenuhi dengan tanaman dan tentu dengan menggunakan sistem modern. Setelah lebih kurang setengah jam perjalanan dengan mobil, kami memasuki sebuah kawasan seluas 2000 meter persegi yang dikelilingi pagar tembok bercat warna kuning dihiasi teralis indah dan tanaman bunga yang sangat rapi, dipintu masuk tertulis kalimat “Raudhatus Sakinah KL Karak” dengan tulisan Arab.
Begitu melewati pintu gerbang, pemandangan pertama yang kami lihat adalah sebuah bangunan modern bersegi empat yang bernuansa Eropa Klasik, kemudian disambut jejeran pohon kurma dan  lampu-lampu indah yang mengelilingi tanah yang telah terkapling-kapling, dalam kaplingan tanah tersebut terlihat hamparan rumput hijau tebal bak hamparan permadani, ditengah-tengahnya berjejer batu-batu dari semen bersegi empat seukuran 10x10 cm dengan sangat rapi dan jarak antara satu dengan lainnya sangat terukur, diatas batu-batu kecil tersebut terdapat nomor seri yang dicetak diatas kaca plastik transparan. Antara satu kapling dengan kapling yang lain dibuat jalan untuk pejalan kaki beralaskan batu-batu alam yang indah, bangku-bangku kecil permanen tersusun rapi di pinggirnya untuk tempat beristirahat, keran-keran kecil juga disediakan untuk sekedar mencuci muka atau kaki ataupun berwudhu, pohon-pohon kayu yang baru ditanam berbaris rapi seakan-akan menyambut kami dengan penuh kemesraan. Disetiap permulaan pangkal jalan terdapat sebuah stainboard dengan ornament yang seragam. Dari komplek ini nampak terlihat dengan jelas Menara kembar (twin tower) Kuala Lumpur City Centre (KLCC).
“inilah kebun saya”, kata tuan Haji Musa memecah kebuntuan kami. “kebun masa depan, sergahnya lagi, inovasi untuk memberikan kemudahan bagi orang yang telah meninggal”. Taman yang kami masuki ini ternyata adalah kuburan muslim modern, yang dikelola dengan menggunakan sistem komputerisasi.  “Semua orang boleh dikebumikan disini, ketika ada orang yang meninggal para keluarga akan mendaftar di kantor pelayanan yang terdapat di pintu gerbang, selesai direcord jenazah akan dimakamkan, nama-nama mereka akan ditulis dipapan (stainboard) di permualaan setiap kapling, ketika berziarah, ahli keluarga hanya perlu meng key-in nama keluarganya atau tanggal orang tersebut meninggal, dan komputer akan menunjukkan dimana areal almarhum tersebut dimakamkan” terangnya dengan mimik bersahaja. Simple, dan boleh berziarah kapan saja, siang maupun malam, dan jenazah juga dapat dikebumikan kapan saja, semua percuma “free of charge”, yang dikenakan hanya biaya retribusi dengan kadar yang sangat terjangkau, lanjut beliau bercerita kepada kami.
Selain memuat kuburan yang modern, “Raudhatus Sakinah” juga masih mengekalkan kuburan tradisional yang memang telah ada ditempat tersebut, kuburan-kuburan tersebut tidak dibongkar, malah ditata dengan apik dan tetap mempertahankan ciri-ciri ketradisionalannya. Pemugaran dilakukan  sehingga terlihat seragam, tidak ada kuburan yang dibangun melebihi kuburan kuburan lain, baik dari segi ketinggian maupun lebar, semua sama, batu nisannya juga berbentuk dan berukuran sama, berwarna putih, kaya dan miskin tidak Nampak perbedaan disini.
Salah seorang dari kami bergumam, “menyo lageinyo kuburan sang hana yeo teh adak matee jino, ken lagei bak geutanyoe kuburan cukop meujuhoem, angker dan han takeujet jak pih”. Ada-ada saja celutuk kawan yang lain.
Menurut Musa, ide dasar dari pendirian kuburan ini terinspirasi oleh kegelisahannya melihat kurang terurusnya perkuburan orang Islam, kuburan identik dengan tempat yang angker dan tidak terkelola dengan baik. Beliau juga tergugah dengan berebutnya ramai ahli keluarga untuk memakamkan keluarganya di sebuah pekuburan yang terawat dengan rapi di kawasan Taman Tun Doktor Ismail di kawasan Kuala Lumpur. Maka pemerintah merasa terpanggil untuk menyediakan perkuburan yang terkelola dengan baik bagi kemudahan rakyatnya. Kamipun saling memandang dan salah seorang dari rombongan kami berucap “nyo legeinyo baroe pemerintah, na jipikee keu rakyat dari lahei sampoe ‘an matee”. “Raudhatus Sakinah” benar-benar taman kenyamanan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi penduduk Kuala lumpur dan sekitarnya.  

ads

Ditulis Oleh : suhaily Hari: 10:24 Kategori:

No comments: